Oleh : Dessy Mudhiah Sartika, S.Tr.Ak., M.Acc.
Kepala Devisi Keuangan Yaa Bunayya Islamic School
Bismillahirrahmanirrahim
Anak-anak tidak memiliki kapasitas emosi dan kognitif yang sama dengan orang dewasa dalam menghadapi kehilangan atau peristiwa menyakitkan, seperti meninggalnya orang tua, perceraian, bencana, atau pengalaman traumatis lainnya. Tanpa pendampingan yang tepat, anak dapat menyimpan emosi yang tidak terproses dan berdampak pada perkembangan psikologisnya. Oleh karena itu, anak perlu dilatih secara aman dan bertahap untuk mengenali, mengekspresikan, dan merespons kejadian tidak menyenangkan.
Bagaimana Anak Memahami Kehilangan
- Usia 3–5 tahun
Anak belum memahami konsep kematian secara permanen. Mereka bisa mengira orang yang meninggal akan kembali.
- Usia 6–9 tahun
Anak mulai memahami kematian, tetapi masih bisa merasa bersalah atau takut hal yang sama akan terjadi pada dirinya.
- Usia 10 tahun ke atas
Anak sudah mampu memahami kehilangan secara lebih realistis, namun emosi bisa lebih kompleks (marah, sedih mendalam, cemas).
Memahami tahap ini penting agar respons orang dewasa tidak keliru atau terlalu berat bagi anak.
Prinsip Dasar Pendampingan Anak
- Jujur, tapi sederhana
Gunakan bahasa yang sesuai usia. Hindari kebohongan seperti “Ayah hanya pergi jauh” karena bisa menimbulkan kebingungan dan ketakutan.
- Validasi perasaan anak
Kalimat seperti “Wajar kalau kamu sedih” atau “Tidak apa-apa kalau kamu marah” membantu anak merasa aman secara emosional.
- Jangan memaksa anak ‘kuat’
Anak tidak perlu diminta untuk “jangan menangis” atau “harus ikhlas”. Menangis adalah bagian dari proses sehat.
Latihan untuk Membantu Anak Merespons Kejadian Tidak Menyenangkan
- Latihan Mengenali Emosi
Gunakan gambar wajah emosi atau kartu perasaan.
- Tanyakan: “Kalau kamu ingat kejadian itu, perasaan apa yang muncul?”
- Ajarkan bahwa satu kejadian bisa memunculkan banyak perasaan sekaligus.
- Latihan Bercerita (Storytelling)
Ajak anak bercerita lewat:
- Menggambar
- Menulis (untuk anak yang lebih besar)
Tujuannya bukan mencari cerita “benar”, tapi memberi ruang ekspresi.
- Latihan Kalimat Aman (Safe Sentences)
Ajarkan anak kalimat sederhana saat emosi muncul, misalnya:
- “Aku sedang sedih dan butuh ditemani.”
- “Aku tidak nyaman, boleh aku berhenti dulu?”
Ini melatih anak mengenali batas dan kebutuhan emosinya.
- Latihan Rutinitas Aman
Setelah kehilangan, rutinitas membantu anak merasa dunia tetap terkendali:
- Jam tidur yang konsisten
- Waktu bermain
- Ritual sederhana (misalnya doa atau refleksi malam)
Peran Orang Dewasa yang Mendampingi
- Dengarkan lebih banyak daripada berbicara
- Terima emosi anak tanpa langsung memberi solusi
- Jadilah contoh dalam mengekspresikan emosi secara sehat
- Cari bantuan profesional bila anak menunjukkan tanda trauma berkepanjangan (menarik diri ekstrem, mimpi buruk terus-menerus, agresivitas berat)
Kesimpulan
Melatih anak merespons kejadian tidak menyenangkan bukan berarti membuat mereka kebal terhadap rasa sakit, tetapi membekali mereka dengan keterampilan emosional untuk memahami dan melewati rasa sakit tersebut. Dengan pendampingan yang penuh empati, anak dapat tumbuh menjadi individu yang tangguh secara emosional tanpa kehilangan rasa aman.
Referensi
- Malchiodi, C. A. (2015). Creative Interventions with Traumatized Children. Guilford Press.
- Kessler, D. (2019). Finding Meaning Mencari Makna di Balik Dukacita. Jakarta: PT.Gramedia Pustaka Utama.
Tinggalkan Komentar