Oleh : Wahyu Asikin, M.Pd.Gr.
Kepala SD Yaa Bunayya Islamic School Palembang
Bismillahirrahmanirrahim
Perlahan namun pasti, wajah ruang guru mulai berubah. Jika dulu didominasi guru-guru senior dengan pengalaman panjang dan gaya komunikasi formal, kini semakin banyak guru muda dari Generasi Z yang mengisi. Mereka adalah pendidik yang lahir sekitar 1997–2004, generasi yang tumbuh bersama internet, gawai, dan dunia digital.
Kehadiran guru Gen Z membawa angin segar bagi sekolah. Mereka adaptif, cepat belajar, serta terampil memanfaatkan teknologi dalam pembelajaran. Di tengah tuntutan pendidikan yang semakin dinamis, kemampuan ini menjadi aset berharga. Namun demikian, tidak sedikit kepala sekolah yang mulai menghadapi tantangan, khususnya terkait karakter dan soft skill guru Gen Z.
Sebagian guru Gen Z kerap dinilai terlalu santai, kurang menjaga tutur kata, belum sepenuhnya peka terhadap etika profesi, atau belum menempatkan diri sebagai teladan. Pertanyaannya, apakah ini sepenuhnya kesalahan guru Gen Z? Atau justru cerminan bahwa pola pembinaan di sekolah belum menyesuaikan dengan karakter generasi baru?
Guru Gen Z tumbuh dalam budaya komunikasi yang cepat, terbuka, dan egaliter. Mereka kritis, berani menyampaikan pendapat, serta terbiasa mempertanyakan alasan di balik aturan. Karakter ini sejatinya adalah potensi besar. Namun, profesi guru menuntut lebih dari sekadar kecakapan teknis. Guru adalah figur yang diamati dan ditiru murid, baik di dalam maupun di luar kelas.
Masalah yang muncul sering kali bukan soal niat, melainkan kesadaran profesi yang masih perlu ditumbuhkan. Kesadaran ini tidak lahir secara instan, tetapi melalui proses pembiasaan, keteladanan, dan pembinaan yang konsisten.
Di sinilah peran kepala sekolah menjadi sangat penting. Pendekatan kepemimpinan terhadap guru Gen Z perlu bergeser dari pola mengawasi menjadi mendampingi. Pola lama berupa instruksi satu arah dan teguran sepihak cenderung kurang efektif bagi generasi yang ingin dilibatkan.
Pendekatan coaching dan dialog terbuka menjadi strategi yang lebih relevan. Kepala sekolah perlu mendengar perspektif guru muda, lalu mengajak mereka berefleksi melalui pertanyaan yang membangun, bukan menghakimi.
Menanamkan makna profesi, bukan sekadar aturan, juga menjadi kunci pembinaan. Ketika guru Gen Z memahami bahwa sikap dan ucapannya dapat berdampak besar bagi karakter murid, etika profesi akan tumbuh sebagai kesadaran, bukan paksaan.
Mentoring lintas generasi dapat menjadi sarana efektif dalam pembinaan karakter. Memadukan guru Gen Z dengan guru senior yang berintegritas memungkinkan proses belajar nilai terjadi secara alami melalui keteladanan sehari-hari.
Selain itu, penyusunan aturan dan etika perilaku yang jelas serta disepakati bersama perlu difasilitasi. Guru Gen Z cenderung lebih patuh pada kesepakatan kolektif dibanding aturan yang dipaksakan sepihak.
Pada akhirnya, guru Gen Z bukan generasi yang bermasalah. Mereka hanya tumbuh di zaman yang berbeda dan membutuhkan pola pembinaan yang berbeda pula. Tugas kepala sekolah bukan mematahkan semangat mereka, melainkan menempa potensi, menghaluskan sikap, dan menumbuhkan kesadaran profesi. Ketika potensi dan karakter bertemu, sekolah akan tumbuh menjadi ruang belajar yang modern sekaligus berkarakter.
Memimpin guru Gen Z bukan tentang siapa yang paling berkuasa, melainkan siapa yang paling mampu memahami dan menggerakkan. Mereka bukan generasi yang harus dibungkam, tetapi diarahkan; bukan untuk ditekan, tetapi ditempa. Ketika kepala sekolah mampu memimpin dengan keteladanan, dialog, dan makna, potensi besar guru Gen Z akan tumbuh menjadi kekuatan nyata bagi sekolah dan masa depan pendidikan. “Leadership is not about control, it’s about connection.” Semoga bermanfaat. Baarakallahu fiikum!
Sumber:
Tinggalkan Komentar