Oleh : M. Rizky Perdana, M.Pd
(Guru SD Yaa Bunayya Islamic School)
Bismillahirrahmanirrahim
“Brain rot” adalah istilah dalam bahasa Inggris yang secara harfiah berarti “pembusukan otak”. Dalam konteks modern, istilah ini digunakan untuk menggambarkan kondisi ketika seseorang terlalu terpaku pada suatu aktivitas atau konten tertentu hingga otaknya menjadi “pasif” dan kurang berkembang. Menurut Vera Itabiliana Hadiwidjojo, S.Psi., seorang psikolog, brain rot merujuk pada situasi di mana otak terjebak dalam aktivitas monoton tanpa tantangan untuk berpikir kritis atau kreatif. “Dampak psikologisnya besar sekali. Dalam usia anak-anak, otak sedang berkembang serta mengasah kemampuan untuk berpikir kreatif dan kritis,” jelasnya.
“Ketika otak hanya fokus pada satu aktivitas tertentu, seperti menggulir media sosial selama berjam-jam, maka kemampuan otak untuk berkembang, beradaptasi, dan berpikir kritis akan terhambat,” jelas Vera dalam konferensi pers peluncuran kampanye #BanggaJadiBunda di Plaza Senayan, Jakarta Pusat, Selasa (10/12/2024). Aktivitas yang tampaknya sederhana seperti scrolling media sosial ternyata bisa berdampak serius pada perkembangan kognitif seseorang, terutama anak-anak yang otaknya sedang berada dalam fase perkembangan pesat.
Anak-anak adalah kelompok yang paling rentan terhadap dampak negatif dari brain rot. Di usia ini, otak mereka sedang berkembang pesat dan membutuhkan berbagai rangsangan untuk meningkatkan kemampuan berpikir kreatif dan kritis. Namun, konsumsi konten digital secara berlebihan justru membawa efek sebaliknya.
Media sosial menjadi salah satu pemicu utama brain rot karena sifatnya yang sangat adiktif. Platform ini dirancang untuk membuat pengguna terus-menerus menggulir konten tanpa henti. Selain itu, komunikasi yang terjadi di media sosial umumnya bersifat satu arah, di mana pengguna hanya menerima informasi tanpa berkesempatan untuk memberikan tanggapan atau memproses informasi secara mendalam.
Vera menjelaskan bahwa perubahan cepat dari satu konten ke konten lainnya membuat otak anak tidak punya waktu untuk mencerna dan memahami informasi yang diterima. Akibatnya, otak anak menjadi terbiasa dengan pola pikir yang dangkal dan instan, tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjang.
Bagaimana Cara Mencegah Brain Rot pada Anak?
Orangtua memegang peranan penting dalam mencegah brain rot pada anak. Berikut beberapa langkah yang bisa dilakukan:
Brain rot adalah fenomena yang nyata dan memiliki dampak serius, terutama bagi anak-anak di era digital. Kondisi ini tidak hanya memengaruhi kemampuan kognitif dan kreativitas anak, tetapi juga kesehatan mental dan produktivitas mereka. Sebagai orangtua, penting untuk memahami risiko ini dan mengambil langkah-langkah preventif untuk melindungi anak dari bahaya brain rot.
Dengan membatasi penggunaan media sosial, mengarahkan anak pada aktivitas yang bermanfaat, dan memberikan contoh yang baik, orangtua dapat membantu anak mereka tumbuh dan berkembang dengan optimal di tengah arus digitalisasi yang semakin deras. Ingat, teknologi adalah alat, bukan tujuan. Gunakanlah teknologi untuk mendukung perkembangan anak, bukan sebaliknya.
Sumber:
Tinggalkan Komentar