Oleh : Muhammad Donny Agusta, SE, MM
Direktur YBIS / Ketua Yys. Tarbiyah Sunnah Yaa Bunayya
Sekolah Islam bukan cuma tempat anak belajar membaca, berhitung, dan menghafal.
Lebih dari itu, sekolah adalah mitra orangtua dalam membentuk karakter dan iman anak.
Tapi belakangan ini, ada fenomena yang cukup sering terjadi: undangan kegiatan parenting dan pengajian keluarga islami diabaikan.
Sebagian wali siswa mungkin merasa, “Ah, itu kan cuma kajian. Saya sibuk kerja.”
Atau, “Paling materinya itu-itu aja.”
Padahal, justru di situlah pondasi pendidikan keluarga dibangun.
Anak-anak belajar akhlak, adab, dan nilai Islam bukan hanya di ruang kelas.
Kalau di sekolah mereka diajarkan tentang shalat tepat waktu, tapi di rumah orangtuanya sering menunda, maka yang terserap oleh anak bukan ilmunya tapi contohnya.
Ketika orangtua hadir dalam kegiatan keislaman di sekolah, anak melihat teladan langsung:
“Oh, Aby Ummi juga belajar seperti aku. Berarti agama itu penting.”
Itu lebih kuat dari seribu nasihat.
Jujur saja, bukan semua orangtua yang absen itu malas.
Ada yang benar-benar sibuk bekerja, ada yang merasa tidak nyaman di keramaian, atau berpikir acara seperti itu tidak terlalu penting.
Tapi di sinilah kita perlu jujur menimbang:
Apakah waktu kita benar-benar habis untuk urusan dunia, sementara urusan akhirat selalu ditunda?
Sejam dua jam menghadiri kajian keluarga islami bisa jadi investasi besar untuk masa depan anak.
Karena dari sana, orangtua mendapat ilmu dan semangat baru dalam mendidik dengan cara yang diridhai Allah.
Kalau orangtua datang ke pengajian dengan wajah semangat, anak akan tumbuh mencintai majelis ilmu.
Kalau orangtua menganggap pengajian itu “acara buang-buang waktu”, jangan heran kalau nanti anak juga memandang remeh hal-hal agama.
Padahal, keberkahan ilmu sering datang bukan dari guru atau tempatnya, tapi dari adab orangtua terhadap ilmu itu sendiri.
Sekolah sudah berusaha memfasilitasi dengan berbagai cara dengan menyesuaikan waktu, menyediakan tempat nyaman, bahkan mengundang pemateri yang inspiratif dari kalangan assatidz yang bermanhaj Ahlussunnah Wal Jama’ah.
Namun, tanpa kehadiran dan dukungan orangtua, semua itu terasa belum lengkap.
Maka, yuk mulai dari hal kecil:
Langkah kecil, tapi efeknya bisa besar buat diri kita, dan buat anak-anak kita.
Sekolah hanya bisa menanam benih. Tapi yang menyiram dan menjaga pertumbuhannya adalah orangtua.
Ketika rumah dan sekolah sejalan dalam visi dan nilai, insyaAllah anak tumbuh kuat dalam iman, sopan dalam adab, dan siap jadi penerus dakwah.
Renungan kita
Mari kita renungkan Aby Ummi , mungkin bukan karena kita tidak sempat, tapi karena belum menempatkan ilmu di tempat yang semestinya.
Hadirlah di majelis ilmu, walau sebentar. Dengarkan, renungkan, dan jadikan bahan muhasabah.
Karena hadirnya kita bukan sekadar menambah space di ruangan, tapi menambah keberkahan di hati anak-anak kita.
Tinggalkan Komentar