Info
Saturday, 13 Apr 2024
  • Telah dibuka Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) Tahun Ajaran 2023 / 2024 untuk TK dan SD Yaa Bunayya Islamic School, untuk info lebih lanjut silahkan hubungi kontak pada website.

Sikap Ketika Mendengar Ghibah

Thursday, 9 November 2023 Oleh : admin

Penulis : Adelia Intan Rahmaniar, S.I.Kom
(Guru TK YBIS Sako)

Ghibah tidaklah hanya dengan kata-kata saja akan tetapi seluruh perbuatan yang mneyebabkan orang lain bisa faham terhadap hal yang tidak disukai oleh orang yang dipergunjingkan, meskipun berupa sindiran, erbuatan,, isyarat, kedipan mata, celaan, tulisan dan segala sesuatu yang mampu menjelaskan maksud yang diinginkan. Sebagai misal meniru gaya berjalan seseorang. Itu semua termasuk ghibah bahkan lebih berbahaya daripada ghibah dengan kata-kata karena perbuatan tersebut memberikan ilustrasi dan penjelasan yang lebih gambling.

Tidak ada keraguan lagi, banyak dalil yang tegas dari Al-Qur’an dan Sunnah seta ijmak yang munujukkan keharaman ghibah.

Ghibah adalah salah satu penyakit lisan yang berbahayal. Rasulullah shallallahu ‘alayhi wassalam telah memberikan definisi ghibah dengan sabda beliau sebagai dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu

“Apakah kalian tahu apa itu ghibah?” Mereka mengatakan “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.” Nabi bersabda : “membicarakan sesuatu yang tidak disukai oleh saudaramu.” Ada orang yang bertanya: “bagaiamana kalau apa yang kukatakan itu benar-benar ada pada dirinya?” beliau menjawab : “jika memang apa yang kamu katakana itu ada pada dirinya, maka berarti kamu telah menggunjingnya. Namun jika apa yang kamu katakana tidak ada pada dirinya maka kamu telah memfitnahnya.”

Shahih Muslim 4/2000 dan Syarah Nawawi terhadap Shahih Muslim 16/142

Imam Nawawi Rahimahullah mengatakan : “Ketahuiah seharusnya bagi seorang yang mendengar ada seorang muslim dipergunjingkan maka hendaklah ia mencegah dan menghentikan pembicaraan itu. Andaikan orang yang menggunjing tidak mau berhenti setelah diingatkan dengan kata-kata maka hendaklah diingatkan dengan tangan. Seandainya orang yang mendengar ghibah tadi tidak mampu mengingatkan dengan tangan maupun dengan lisannya, maka hendaknya ia meninggalkan tempat itu.

Dari ‘itban radhiyallahu’anhu dalam hadits beliau yang Panjang dan masyhur, beliau mengatakan” setelah Nabi shallallahu ‘alayhi wassalam shalat, maka beliau bertanya: “di manakah Malik bin Dukhsyum atau Ibnu Dukhsyum?” Sebagian sahabat mengatakan “dia adalah orang munafik yang tidak mencintai Allah dan Rasul-Nya.” maka Nabi bersabda: “Janganlah kalian mengatakan demikian! Bukankah kalian telah menyaksikan bahwa ia telah mengatakan la ilaha ilallah dengan hanya mengharap wajah Allah.” ‘Itban menyatakan para sahabat berkata “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.” ‘Itban mengatakan: “Kami hanya melihat wajah beliau dan mendengar nasihat beliau untuk kaum munafik.: ‘Itban menyebutkan, maka haramkan neraka bagi orang yang mengucapkan La Ilaha Ilallah hanya mengharap wajah Allah.

Dari Abu Darda’ Radhiyallahu ‘anhy belaiu menuturkan sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alayhi wassalam bersabda yang artinya :

“Barangsiapa membela kehormatan saudaranya, maka Allah akan menyelamtkan wajahnya dari api neraka pada hari kiamat”

Dari Asma’ binti Yazid Nabi Shallallahu ‘Alayhi Wassalam bersabda:

“Barangsiapa yang membela daging (kehormatan) saudaranya dari gunjingan orang lain maka Allah pasti akan membebaskannya dari neraka”

Dari Ka’ab bin Malik dalam hadits nya yang panjang berisi kisah taubatnya, dia mengatakan: Pada saat Nabi Shallallahu ‘Alayhi Wassalaam duduk bersama beberapa sahabatnya di Tabuk, beliau bertanya. “Apa yang dilakukan Ka’ab?” serang lelaki dari Bani Salamah mengatakan: “Dia sibuk mengurusi dua lembar kain selimut yang dia kenakan pada kedua bahunya.”. Mu’adz bin Jabal Radhiyallahu ‘anhu berkata padanya: “demi Allah, wahai Rasulullah setahu kami dia adalah orang yang paling baik.” mendengar hal itu Rasulullah hanya diam saja.

Shahih bukhari 5/130, shahih Muslim 4/2122 dan Ahmad 3/457.

Lalu bagaimana agar terhindar dari ghibah?

Penulis dr. Sa’id bin ‘ali bin wahf al qohthoni berkata, Solusi Pertama hendaklah kita menyadari bahwa apabila kita menggunjing seseorang berarti kita akan mendapatan kemarahan dan kemurkaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala sebagaimana yang digambarkan dalam hadits-hadits shahih sebelumnya dan juga dalam hadits-hadits shahih lainnya.

Hendaknyalah kita menyadari bahwa pada hari kiamat nanti kebaikan yang kita miliki akan dilimpahkan untuk orang yang kita pergunjingkan seebagai ganti rugi terhadap bentuk perampasan kehormamatan orang lain. Dan seandainya kitra tidak mempunyai kebaikan sedikit pun maka kejelekan orang tersebut akan dipindahkan kepada kita. Tatkala timbangan kejelekan kita lebih berat maka kita akan dijebloskan kedalam neraka. Beratnya timbangan kejelekan itu terkadang disebabkan oleh pelimpahan sebuah kejelekan yang berasal dari orang yang dipergunjingkan. Oleh karena itu andaikan timbangan kejelekan kita tidak lebih berat daripada kebaikan kita. Maka berkurang nya kebaikan cukuplah menjadi hukuman. Hal ini belum lagi terhitung perkara lain yang makin memperberat kejelekan kita, seperti perdebatan, tuntutan, perang mulut antara kita dengan orang yang kita pergunjingkan, serta masalah hisab dari Allah. Tidak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah

Sumber : Al-Qohthoni, Dr. Sa’id bin Ali bin Wahf. (2003) “Bahaya Lidah Penyakit Lisan dan Terapinya”. (Eko Haryono, Aris Munandar, Terjemahan). Jogjakarta, Media Hidayah.

No Comments

Tinggalkan Komentar