Oleh : Samsuri Riyanto, S. E., Gr
Kepala SMP islam yaa bunayya
Setiap anak pasti pernah menghadapi berbagai permasalahan di sekolah, baik dalam hubungan dengan teman sebaya maupun dalam proses belajar mengajar. Tidak jarang, anak datang ke rumah dengan membawa keluhan atau aduan yang menimbulkan kekhawatiran bagi orang tua. Dalam situasi seperti ini, respons orang tua memiliki peran penting dalam menentukan arah penyelesaian masalah. Sikap terburu-buru menyalahkan pihak sekolah atau guru tanpa mencari klarifikasi dapat memperkeruh suasana dan berdampak negatif pada psikologis anak. Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk bersikap bijak, tenang, dan komunikatif dalam menanggapi setiap aduan yang disampaikan anak.
Langkah pertama yang harus dilakukan orang tua ketika anak mengadu adalah mendengarkan dengan empati. Menurut psikolog anak Seto Mulyadi (Kompas.com, 2023), anak yang merasa didengarkan akan lebih terbuka dalam mengungkapkan perasaannya dan cenderung lebih tenang. Orang tua sebaiknya tidak langsung bereaksi dengan kemarahan atau kecurigaan terhadap guru. Dengarkan cerita anak secara utuh tanpa menyela, dan bantu anak untuk menceritakan kejadian dengan runtut. Dengan begitu, orang tua dapat memahami konteks sebenarnya dari aduan tersebut.
Setelah mendengar keluhan anak, orang tua perlu melakukan klarifikasi kepada pihak sekolah dengan cara yang baik dan terbuka. Berdasarkan pedoman komunikasi sekolah yang dikeluarkan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek, 2022), komunikasi efektif antara orang tua dan sekolah adalah kunci utama dalam menyelesaikan masalah pendidikan. Orang tua dapat menghubungi wali kelas atau guru terkait untuk menanyakan duduk perkara dengan bahasa yang sopan, tanpa menuduh atau menghakimi. Dengan demikian, penyelesaian masalah dapat dilakukan secara objektif dan adil bagi semua pihak.
Sikap orang tua dalam menghadapi aduan anak akan menjadi cerminan bagi anak dalam menyelesaikan konflik. Jika orang tua menunjukkan sikap marah, emosional, dan menyalahkan pihak lain, anak akan belajar bahwa kemarahan adalah solusi atas masalah. Sebaliknya, jika orang tua bersikap tenang, bijak, dan komunikatif, anak akan meniru nilai kedewasaan dan empati. Seperti dijelaskan oleh ahli pendidikan karakter Thomas Lickona (2012), pendidikan karakter dimulai dari keteladanan di rumah, bukan hanya dari teori di sekolah. Dengan demikian, peran orang tua sebagai panutan menjadi sangat penting dalam menumbuhkan pribadi anak yang berempati dan beretika.
Untuk membantu orang tua bersikap bijak dalam menghadapi aduan anak, berikut beberapa langkah praktis yang bisa diterapkan:
Menyikapi aduan anak bukan hanya soal membela atau memarahi pihak tertentu, tetapi tentang membangun komunikasi yang sehat antara rumah dan sekolah. Orang tua berperan sebagai jembatan utama dalam menumbuhkan rasa saling percaya dan kerja sama antara anak dan lingkungan pendidikannya. Dengan mendengarkan secara empatik, mengklarifikasi dengan bijak, dan memberi teladan dalam bersikap, orang tua membantu anak belajar bahwa setiap masalah dapat diselesaikan dengan cara yang baik. Sinergi antara keluarga dan sekolah inilah yang menjadi fondasi utama dalam membentuk generasi yang berkarakter, berempati, dan berakhlak mulia.
Daftar Pustaka / Sumber Relevan:
Tinggalkan Komentar