Info
Tuesday, 27 Oct 2026
  • Telah dibuka Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) Tahun Ajaran 2026 / 2027 untuk TK, SD dan SMP Yaa Bunayya Islamic School, untuk info lebih lanjut silahkan hubungi kontak pada website.

SENI MENJAGA ETIKA DI DUNIA DIGITAL DAN NYATA

Tuesday, 27 October 2026 Oleh : admin

Oleh : Dian Safitri
(Guru SMP Yaa Bunayya Islamic School)

Bismillahirrahmanirrahim

Perkembangan teknologi informasi membawa perubahan besar dalam pola interaksi manusia. Saat ini, batasan antara dunia nyata dan dunia digital seolah semakin kabur. Meski sarana berinteraksi telah berevolusi, nilai-nilai dasar dalam Islam mengenai akhlak dan adab tidak pernah berubah. Seorang muslim dituntut untuk tetap menjaga etika dan kehormatan dirinya, baik ketika bertatap muka di dunia nyata maupun saat berselancar di balik layar gawai.

Seni menjaga etika pada dasarnya berakar dari rasa mawas diri (muraqabah) kesadaran penuh bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala selalu mengawasi setiap perbuatan, ucapan, hingga ketikan jari kita.

Panduan Al-Qur’an dan Hadits dalam Beretika

Islam memberikan petunjuk yang sangat jelas mengenai pentingnya menjaga tutur kata dan kebenaran informasi, baik secara lisan maupun tulisan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar.” (QS. Al-Ahzab: 70)

Perkataan yang benar (qawlan sadidan) mencakup kejujuran, kesopanan, dan kehati-hatian dalam menyampaikan informasi. Di dunia digital, prinsip ini menjadi benteng agar seseorang tidak menyebarkan berita bohong (hoaks), ghibah, atau komentar kebencian.

Selain itu, setiap ucapan dan tulisan yang kita unggah di media sosial akan dicatat secara cermat oleh malaikat dan dimintai pertanggungjawaban di akhirat kelak. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan:

مَّا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

“Tidak ada suatu kata pun yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat).” (QS. Qaf: 18)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memberikan standar utama bagi keselamatan seorang muslim melalui lisannya:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.”

(HR. Bukhari no. 6018 dan Muslim no. 47)

Menerapkan Etika di Dua Dunia

1. Menjaga Lisan dan Jemari

Di dunia nyata, kita diajarkan untuk tidak menyakiti perasaan orang lain melalui lisan. Begitu pula di dunia digital, tulisan atau komentar yang kita ketik memiliki dampak yang sama besarnya. Jika tidak bisa memberikan komentar yang bermanfaat atau menyejukkan, lebih baik memilih untuk diam.

2. Tabayyun (Verifikasi Informasi)

Sebelum membagikan kabar atau pesan berantai di media sosial, pastikan kebenaran isinya terlebih dahulu. Menyoroti atau menyebarkan informasi tanpa dasar yang jelas dapat menjerumuskan seseorang ke dalam dosa fitnah.

3. Menghormati Privasi dan Batasan

Seni beretika juga tampak dari cara seseorang menghargai privasi orang lain. Menjaga pandangan (ghaddul bashar), tidak mengumbar aib sendiri maupun orang lain, serta tetap santun saat berbeda pendapat merupakan cerminan akhlak yang mulia.

Menjaga etika di dunia digital dan nyata bukan sekadar tentang membangun citra diri yang baik, melainkan wujud nyata dari keimanan seorang hamba kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Semoga kita senantiasa dibimbing untuk memiliki akhlak yang lurus di mana pun berada.

Sumber :

  • Muslim.or.id
  • Rumaysho.com.

No Comments

Tinggalkan Komentar