Oleh : Irma Octavianty, S.Pd
(Kepala TK Islam Yaa Bunayya Sako)
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه
Pendidikan merupakan fondasi utama dalam membentuk generasi yang cerdas, kreatif, dan bertanggung jawab serta untuk mengembangkan potensi, pengetahuan, keterampilan, sikap, dan karakter seseorang agar menjadi pribadi yang lebih baik dan berguna bagi dirinya serta masyarakat.
Untuk anak usia dini, pendidikan adalah proses stimulasi seluruh aspek perkembangan anak melalui bermain yang menyenangkan, aman, dan bermakna. Fokusnya bukan pada calistung, tapi pada pembentukan karakter, kemandirian, dan kecintaan pada Allah sejak dini.
Masa usia dini 0-6 tahun disebut golden age atau masa keemasan. Di usia ini otak anak berkembang sangat cepat dan karakter mulai terbentuk..Di era modern yang penuh tantangan teknologi, kita tidak hanya butuh anak yang pintar dan kreatif. Kita juga butuh anak yang berakhlak, beriman, dan bermanfaat bagi sesama. Lalu bagaimana caranya?
Pertama, jadikan guru sebagai teladan.Rasulullah ﷺ mendidik sahabat dengan kasih sayang, lembut, dan penuh kesabaran. Anak belajar paling cepat melalui contoh, bukan perintah. Senyuman guru, sabarnya guru, dan doa guru akan lebih diingat anak.
Kedua, belajar sambil bermain dengan nilai Islam. Anak tidak bisa belajar seperti orang dewasa. Mereka belajar lewat bermain. Tugas guru adalah menyisipkan nilai Islami di dalam setiap pembelajaran sambil bermain, ajarkan adab, ajarkan doa dan hafalan surat pendek.
Ketiga, stimulasi 6 aspek perkembangan secara seimbang. Kurikulum Merdeka PAUD menekankan 6 aspek: agama, fisik, kognitif, bahasa, sosial emosional, dan seni. Kita tinggal mengemasnya dengan media kekinian seperti bahan alam loose parts.
Keempat, ciptakan lingkungan ramah anak. Sekolah harus jadi tempat yang aman, nyaman, dan menyenangkan. Tidak ada kekerasan, dan ciptakan tempat bermain yang bersih dan menyenangkan. Lingkungan yang baik akan membuat anak merasa dicintai sehingga mudah menerima ilmu.
Kelima, jalin kerja sama dengan orang tua. Di sekolah anak-anak hanya sebentar dan sisanya anak bersama orang tua di rumah. Karena itu guru dan orang tua harus satu visi. Guru bisa berbagi tips parenting, seperti membatasi penggunaan gadget dan membiasakan shalat. Pendidikan yang kuat lahir dari kolaborasi sekolah, rumah, dan masyarakat.
Generasi unggul bukan hanya yang cerdas secara akademik, tapi juga yang berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Sunnah. Di tengah arus digital, nilai agama adalah benteng terbaik bagi anak. Mari kita niatkan mendidik anak sebagai ibadah. Setiap ilmu, setiap adab, setiap doa yang kita ajarkan akan menjadi amal jariyah yang pahalanya terus mengalir. Semoga anak-anak kita menjadi pemimpin umat yang shalih dan shalihah di masa depan. Aamiin.
“Didiklah anakmu sesuai zamannya, tapi dengan nilai yang tidak pernah berubah: Al-Qur’an dan Sunnah.”
Tinggalkan Komentar