Oleh : Ade Agustian, A.Md.Kom
(Kadiv. Digital & Humas YBIS)
Alhamdulillah, Ramadhan telah usai dan sekarang kita berada dibulan Syawal, tentu setiap Muslim berharap amal ibadahnya dibulan Ramadhan diterima oleh Allah, terutama setelah menjalani puasa, qiyam, tilawah, dan sedekah. Namun, para ulama menjelaskan bahwa yang paling penting bukan sekadar banyaknya amal, tetapi apakah amal itu diterima oleh Allah atau justru tertolak. Karena itu, seorang mukmin perlu mengenal tanda-tanda diterimanya amal sekaligus sebab-sebab yang bisa menggugurkannya.
Setelah Ramadhan, Allah Ta’ala memerintahkan shalat Idulfitri dan zakat fitrah sebagai bentuk penyucian jiwa.
قَدْ أَفْلَحَ مَن تَزَكَّىٰ
وَذَكَرَ ٱسْمَ رَبِّهِۦ فَصَلَّىٰ
“Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman), dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia sembahyang.” (QS. Al-A’laa: 14-15)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan,
وَعِنْدَ أَهْلِ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ يُتَقَبَّلُ الْعَمَلُ مِمَّنِ اتَّقَى اللَّهَ فِيهِ، فَعَمِلَهُ خَالِصًا لِلَّهِ، مُوَافِقًا لِأَمْرِ اللَّهِ، فَمَنْ اتَّقَاهُ فِي عَمَلٍ تَقَبَّلَهُ مِنْهُ وَإِنْ كَانَ عَاصِيًا فِي غَيْرِهِ. وَمَنْ لَمْ يَتَّقِهِ فِيهِ، لَمْ يَتَقَبَّلْهُ مِنْهُ وَإِنْ كَانَ مُطِيعًا فِي غَيْرِهِ.
“Menurut Ahlus Sunnah wal Jamaah, Allah menerima amal dari orang yang bertakwa dalam amal itu, yaitu ia mengerjakannya dengan ikhlas karena Allah dan sesuai dengan perintah-Nya. Maka siapa yang bertakwa kepada Allah dalam suatu amal, Allah akan menerimanya, meskipun ia melakukan maksiat dalam perkara lain. Siapa yang tidak bertakwa kepada Allah dalam amal itu, Allah tidak akan menerimanya, meskipun ia taat dalam perkara lain.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 10:322)
Jadi, amal yang tidak diterima oleh Allah adalah amal yang dilakukan tanpa takwa kepada-Nya, tanpa ikhlas, dan tanpa mengikuti tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Manusia tidak tahu amal mana yang diterima dan mana yang tidak. Oleh karena itu, ia berada antara harap dan takut. Ia berusaha menyempurnakan amalnya, lalu memohon kepada Allah agar amal itu diterima, karena diterimanya amal adalah semata-mata karunia dari Allah. Ia pun khawatir amalnya ditolak, atau bahkan batal karena ada cacat tersembunyi yang membuatnya tidak diterima.
Ada tanda bahwa amal diterima, yaitu ketika amal itu membuahkan ketaatan lain. Sebagaimana dikatakan oleh sebagian salaf,
مِنْ ثَوَابِ الْحَسَنَةِ، الْحَسَنَةُ بَعْدَهَا.
“Termasuk balasan dari satu kebaikan adalah kebaikan berikutnya.”
Orang-orang saleh bersungguh-sungguh dalam amal mereka, tetapi tetap menganggap amalnya kecil jika dibandingkan dengan hak Allah atas dirinya. Merasa kecil terhadap amal sendiri dan merendahkan diri adalah tanda bahwa amal diterima.
Ibnu Qayyim rahimahullah berkata,
عَلَامَةُ قَبُولِ الْعَمَلِ احْتِقَارُهُ وَاسْتِقْلَالُهُ، وَصِغَرُهُ فِي قَلْبِكَ. حَتَّى إِنَّ الْعَارِفَ لَيَسْتَغْفِرُ اللَّهَ عَقِيبَ طَاعَتِهِ. وَقَدْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا سَلَّمَ مِنَ الصَّلَاةِ اسْتَغْفَرَ اللَّهَ ثَلَاثًا.
Tanda diterimanya amal adalah jika seseorang menganggap amalnya kecil dan remeh dalam hatinya. Bahkan orang yang mengenal Allah sering beristighfar setelah beramal.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri, setelah selesai shalat, beristighfar sebanyak tiga kali. (Madarij As-Salikin baina Manazil Iyyaka Na’budu wa Iyyaka Nasta’in, 2:162, Islamweb)
Diterimanya Amal vs Banyak Beramal
Perhatian para salafus shalih terhadap diterimanya ibadah jauh lebih besar daripada perhatian mereka terhadap pelaksanaan ibadah itu sendiri, karena mereka tidak tahu apakah amal mereka diterima atau tidak. Maka kegelisahan akan diterimanya amal benar-benar menguasai hati mereka.
Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala,
وَٱلَّذِينَ يُؤْتُونَ مَآ ءَاتَوا۟ وَّقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَىٰ رَبِّهِمْ رَٰجِعُونَ
“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka.” (QS. Al-Mu’minun: 60)
Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata, “Hendaklah kalian lebih mencemaskan apakah amal kalian diterima, daripada sekadar beramal itu sendiri. Tidakkah kalian mendengar firman Allah: ‘Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang-orang yang bertakwa.’” (QS. Al-Ma’idah: 27) (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Dunya dalam al-Ikhlas wa an-Niyyah)
Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, pada malam terakhir bulan Ramadan, berkata:
“Siapakah gerangan di antara kita yang diterima amalnya, agar kita ucapkan selamat kepadanya? Dan siapa pula yang tertolak dan terhalang, agar kita berbelasungkawa kepadanya? Wahai orang yang diterima amalnya, selamat atasmu! Wahai orang yang ditolak, semoga Allah menghiburmu atas musibah ini!” (Diriwayatkan oleh Imam Muhammad bin Nashr al-Marwazi dalam Qiyam al-Lail, juga oleh Ibnu asy-Syajari dan Abu al-Fath al-Maqdisi dalam Amali mereka)
Coba lihat amalan sebagian ulama salaf yang luar biasa sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah berikut ini,
كَانُوْا يَدْعُوْنَ اللهَ سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يُبَلِّغَهُمْ شَهْرَ رَمَضَانَ ، ثُمَّ يَدْعُوْنَ اللهَ سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يَتَقَبَّلَهُ مِنْهُم
“Para salaf selalu berdoa kepada Allah selama enam bulan agar bisa diperjumpakan dengan bulan Ramadhan. Kemudian mereka berdoa kepada Allah selama enam bulan agar Allah menerima amalan mereka.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 369)
Maka jika seseorang merasakan kegelisahan dalam hati tentang apakah amalnya diterima, ia pun mengekspresikannya dengan doa, memohon kepada Allah agar amalnya diterima. Dan Allah tidak akan menolak siapa pun yang berdoa kepada-Nya.
Dari penjelasan ini, kita dapat memahami jawaban atas pertanyaan: mengapa para salaf lebih mencemaskan diterimanya amal, daripada amal itu sendiri.
Kita berdoa kepada Allah agar amalan-amalan kita diterima di bulan Ramadhan setelah berlalu.
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّآ ۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْعَلِيمُ
وَتُبْ عَلَيْنَآ ۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلتَّوَّابُ ٱلرَّحِيمُ
RABBANAA TAQABBAL MINNAA, INNAKA ANTAS-SAMII’UL-‘ALIIM. WA TUB ‘ALAINAA, INNAKA ANTAT-TAWWAABUR-RAHIIM.
“Ya Rabb kami, terimalah (amal) dari kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 127–128, potongan dari doa Nabi Ibrahim dan Ismail ‘alaihimassalam)
Semoga Allah menerima Amalan kita.
Barakallahu Fiikum
Tinggalkan Komentar