Oleh: Fatria Agustina, S.Pd. Gr
Guru TK Yaa Bunayya Islamic School Sako
Bismillahirrahmanirrahim
Salah satu akhlak tercela yang dilarang dalam agama islam adalah Su’udzon, yaitu sikap berburuk sangka atau berprasangka negatif terhadap orang lain tanpa bukti yang jelas, keberadaanya menjadi penyakit hati yang dapat merusak keimanan seorang muslim. Kesempurnaan iman dan dan fondasi keislaman yang kuat seorang msulim ditandai dengan kemulian akhlaknya. Seperti yang disabdakan oleh Rasulullah shalallahu’alaihiwassalam “orang mukmin yang paling sempurna keimanannya adalah yang paling baik akhlaknya” (H.R Tirmidzi)
Allah Ta’alaa berfirman
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka, karena sesungguhnya sebagian tindakan berprasangka adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain” (Al-Hujurat/49 : 12)
Dalam ayat tersebut terkandung hikmah untuk menjauhi kebanyakan berprasangka, karena hal tersebut adalah perbuatan dosa. Dalam ayat ini juga terdapat larangan berbuat tajassus yaitu mencari-cari kesalahan atau kejelekan dan kekurangan orang lain, dan hal ini merupakan efek dari prasangka buruk.
Tajassus dalam tafsiran berarti mencari-cari kesalahan orang lain terutama mencari aib orang-orang beriman.
Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda :
إِيَّا كُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيْثِ وَلاَ تَحَسَّسُوا وَلاَ تَجَسَّسُوا وَلاَ تَحَاسَدُوا وَلاَتَدَابَرُوا وَلاَتَبَاغَضُوا وَكُوْنُواعِبَادَاللَّهِ إحْوَانًا
“Berhati-hatilah kalian dari tindakan berprasangka buruk, karena prasangka buruk adalah sedusta-dusta ucapan. Janganlah kalian saling mencari berita kejelekan orang lain, saling memata-matai, saling mendengki, saling membelakangi, dan saling membenci. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara” (H.R Bukhori dan Muslim)
Amirul Mukminin Umar bin Khathab berkata, “Janganlah engkau berprasangka terhadap perkataan yang keluar dari saudaramu yang mukmin kecuali dengan persangkaan yang baik. Dan hendaknya engkau selalu membawa perkataannya itu kepada prasangka-prasangka yang baik”
Disebutkan dalam kitab Al-Hilyah karya Abu Nu’aim bahwa Abu Qilabah Abdullah bin Yazid Al-Jurmi berkata : “Apabila ada berita tentang tindakan saudaramu yang tidak kamu sukai, maka berusaha keraslah mancarikan alasan untuknya. Apabila kamu tidak mendapatkan alasan untuknya, maka katakanlah kepada dirimu sendiri, “Saya kira saudaraku itu mempunyai alasan yang tepat sehingga melakukan perbuatan tersebut”.
Sebagai umat muslim yang diberikan akal yang sempurna hendaknya kita senantiasa mengamalkan perilaku dan akhlak-akhlak yang mencerminkan manusia beriman. Kita diminta untuk selalu menghindari prasangka seperti menaruh curiga kepada seseorang yang kita sendiri bahkan belum mengetahui kebenarannya dan tidak disandarkan pada bukti. Oleh karena itu jika prasangka dinyatakan maka dikatakan kadzib atau dusta.
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu, Nabi Shalallahu’alaihi wa sallam bersabda :
إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ
“Waspadalah pada buruk sangka,karena berburuk sangka adalah sejelek-jeleknya perkataan dusta” (HR.Bukhori dan Muslim)
Abu Hatim bin Hibban Al-Busti bekata dalam kitab Raudhah Al-‘Uqala (hal.131), ”Orang yang berakal wajib mencari keselamatan untuk dirinya dengan meninggalkan perbuatan tajassus dan senantiasa sibuk memikirkan kejelekan dirinya sendiri. Sesungguhnya orang yang sibuk memikirkan kejelekan dirinya sendiri dan melupakan kejelekan orang lain, maka hatinya akan tenteram dan tidak akan merasa capai. Setiap kali dia melihat kejelekan yang ada pada dirinya, maka dia akan merasa hina tatkala melihat kejelekan yang serupa ada pada saudaranya. Sementara orang yang senantiasa sibuk memperhatikan kejelekan orang lain dan melupakan kejelekannya sendiri, maka hatinya akan buta, badannya akan merasa letih dan akan sulit baginya meninggalkan kejelekan dirinya”.
Beliau juga berkata pada hal.133, “Tajassus adalah cabang dari kemunafikan, sebagaimana sebaliknya prasangka yang baik merupakan cabang dari keimanan. Orang yang berakal akan berprasangka baik kepada saudaranya, dan tidak mau membuatnya sedih dan berduka. Sedangkan orang yang bodoh akan selalu berprasangka buruk kepada saudaranya dan tidak segan-segan berbuat jahat dan membuatnya menderita”.
Ada juga istilah Tajassus yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim, dimaksud adalah menguping untuk mencari-cari kejelekan atau aib suatu kaum di mana mereka tidak suka untuk didengar, atau menguping di depan pintu-pintu mereka.
Dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
وَمَنِ اسْتَمَعَ إِلَى حَدِيثِ قَوْمٍ وَهُمْ لَهُ كَارِهُونَ أَوْ يَفِرُّونَ مِنْهُ ، صُبَّ فِى أُذُنِهِ الآنُكُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Barangsiapa menguping omongan orang lain, sedangkan mereka tidak suka (kalau didengarkan selain mereka), maka pada telinganya akan dituangkan cairan tembaga pada hari kiamat.” (HR. Bukhari no. 7042). Imam Adz Dzahabi mengatakan bahwa yang dimaksud dengan al-aanuk adalah tembaga cair.
Ketika seorang muslim menaruh curiga kepada orang lain hendaklah memiliki bukti yang sah atau valid. Hal tersebut boleh dilakukan. Sebagaimana disebutkan oleh Imam Nawawi dalam Riyadush sholihin bahwa terlarang berburuk sangka pada kaum muslimin tanpa alasan yang mendesak.
Dari Zaid bin Wahab, ia berkata,
عَنْ زَيْدِ بْنِ وَهْبٍ قَالَ أُتِىَ ابْنُ مَسْعُودٍ فَقِيلَ هَذَا فُلاَنٌ تَقْطُرُ لِحْيَتُهُ خَمْرًا فَقَالَ عَبْدُ اللَّهِ إِنَّا قَدْ نُهِينَا عَنِ التَّجَسُّسِ وَلَكِنْ إِنْ يَظْهَرْ لَنَا شَىْءٌ نَأْخُذْ بِهِ
Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu telah didatangi oleh seseorang, lalu dikatakan kepadanya, “Orang ini jenggotnya bertetesan khamr.” Ibnu Mas’du pun berkata, “Kami memang telah dilarang untuk tajassus (mencari-cari kesalahan orang lain). Tapi jika tampak sesuatu bagi kami, kami akan menindaknya.” (HR. Abu Daud no. 4890. Sanad hadits ini dhaif menurut Al Hafizh Abu Thohir, sedangkan Syaikh Al Albani mengatakan bahwa sanadnya shahih).
Sebagai makhluk sosial yang dibekali akal fikiran dan perasaan, kita pula dianjurkan untuk selalu bersikap dan berprasangka baik atau dalam istilahnya Husnuzhon kepada manusia lainnya. Prasangka baik (husnuzhon) ini hukumnya boleh atau jaiz dan sangat dianjurkan karena akan membawa kebaikan, ketenangan dan keharmonisan dalam lingkungan sosial. Seperti yang tertuang dalam Qs. Al Hujurat :12 tadi diatas, yang menekankan agar kita fokus pada kebaikan, berfikir posistif dan tidak mudah menghakimi orang lain, sebab prasangka buruk bisa menjadi pintu masuk pada perbuatan dosa lainnya.
Ketika kita sibuk mencari keburukan dan kesalahan orang lain, bahkan hingga mengumbar aib orang lain di khalayak umum padahal hanya sedikit yang kita ketahui sementara kita sendiri memiliki aib yang mungkin lebih banyak dari orang lain. istilah ini seperti dalam peribahasa “ Semut di seberang lautan nampak, gajah di pelupuk mata tak nampak” . dan istilah peribahsa ini perkataan atau ungkapan dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu :
يُبْصِرُ أَحَدُكُمْ القَذَاةَ فِي أَعْيُنِ أَخِيْهِ، وَيَنْسَى الجَذَلَ- أَوِ الجَذَعَ – فِي عَيْنِ نَفْسِهِ
“Salah seorang dari kalian dapat melihat kotoran kecil di mata saudaranya tetapi dia lupa akan kayu besar yang ada di matanya.” (Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Adabul Mufrod)
Dan apabila kita melihat atau mengetahui aib aib orang lain, atau apabila ada seorang mukmin terjatuh dalam perbuatan dosa hendaklah kita menutupinya dan tidak membeberkan aibnya. Maka Allah ta’ala juga akan menutupi aib kita karean sebab-sebab tersebut. Kemudian Allah ta’alaa akan memaafkan dan mengampuninya.
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,
لاَ يَسْتُرُ اللَّهُ عَلَى عَبْدٍ فِى الدُّنْيَا إِلاَّ سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Jika Allah menutupi dosa seorang hamba di dunia, maka Allah akan menutupinya pula pada hari kiamat kelak.” (HR. Muslim)
Hal ini menunjukkan kabar gembira bagi orang beriman, bahwasanya barangsiapa yang Allah tutup aibnya di dunia, maka ini merupakan pertanda bahwa Dia pun akan menutup aibnya kelak di akhirat.
Wallahu waliyyut taufiq,
Sumber dan Referensi :
Tinggalkan Komentar