Info
Sunday, 17 May 2026
  • Telah dibuka Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) Tahun Ajaran 2026 / 2027 untuk TK, SD dan SMP Yaa Bunayya Islamic School, untuk info lebih lanjut silahkan hubungi kontak pada website.

MENDIDIK JIWA SOSIAL ANAK DI BULAN RAMADHAN

Thursday, 26 February 2026 Oleh : admin

Oleh: Dinda Amalia Azahra
Guru TK Yaa Bunayya Islamic School Sako

بسم الله الرحمن الرحيم

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu wassalamu ‘ala asyrafil anbiyaa-i wal mursalin, Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala aalihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du.

Bulan Ramadan mengandung banyak keberkahan dan juga tuntutan pendidikan. Salah satu hasil dari madrasah Ramadan adalah tumbuhnya jiwa sosial dan semangat kedermawanan untuk anak dibulan Ramadan. Menumbuhkan empati dan jiwa sosial adalah salah satu tujuan dari diistimewakannya bulan Ramadan.

Sebagaimana orang yang membantu menyiapkan bekal orang yang berangkat berperang, sama saja ia telah ikut berperang. Begitu juga, siapa saja yang menjaga keluarga orang yang berperang dengan baik, sama saja ia telah ikut berperang. Perbuatan inilah yang kita harapkan pahalanya selama bulan Ramadan. Dalam sebuah hadis dari Zaid bin Khalid, Nabi ﷺ bersabda,

مَنْ فَطَرَ صَائِمًا فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْءٌ

“Barangsiapa memberi makanan buka untuk orang yang berpuasa, ia juga mendapatkan pahala seperti pahala orang puasa tersebut tanpa mengurangi pahala orang yang puasa itu sedikit pun.” (HR. Ahmad no. 116 dan Tirmidzi, dinilai hasan shahih)

Pemberian itu berupa rahmat, ampunan, dan pembebasan dari api neraka. Terlebih pada saat Lailatul Qadar tiba. Allah juga mengasihi para hamba-Nya yang mau memberi kasih sayang kepada orang lain.

Mengajarkan kepada anak bahwa menggabungkan puasa dengan sedekah merupakan faktor masuknya seseorang ke surga, bahkan terlebih digabungkan dengan amalan yang sesuai sunnah,

Sebagaimana disebutkan dalam hadis, Nabi bersabda,

إن في الجنة غرفا الجنة غرفا يرى ظهورها من بطونها من ظهورها قالوا: لمن هي يا رسول الله؟ قال: لمن طيب الكلام وأطعم الطعام وأدام الصيام وصلى بالليل والناس نيام

“Sesungguhnya di surga terdapat kamar-kamar yang bagian luarnya terlihat dari dalam dan bagian dalamnya terlihat dari luar.” Para sahabat lantas bertanya, “Wahai Rasulullah, untuk siapakah bilik-bilik kamar itu?” Beliau bersabda, “Bagi siapa saja yang baik tutur katanya, suka memberi makan orang lain, rajin berpuasa, dan salat malam di saat manusia tidur.” (HR. Tirmidzi no. 1985, Adz-Dzahabi menilainya sahih)

Pendidikan empati bagi anak dengan berbuka puasa Bersama.

Ibnu Rajab rahimahullah dalam keterangan yang panjang menjelaskan bahwa dianjurkan untuk memberi menu berbuka kepada orang yang berpuasa dan dianjurkan untuk ikut berbuka bersamanya. Hal itu akan menumbuhkan empati yang lebih besar ditinjau dari dampak perbuatan tersebut kepada hati. Berbuka bersama dengan makanan yang disedekahkan menunjukkan bahwa makanan yang ia sedekahkan tersebut adalah makanan yang ia sukai, sehingga menghibur hati orang yang diberi. Dengan demikian, dia termasuk golongan orang-orang yang bersedekah dengan harta yang ia sukai.

Hal itu juga sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah atas nikmat dibolehkannya kembali menikmati makanan dan minuman setelah sebelumnya terlarang, sebab nikmat makan dan minum itu benar-benar dapat dirasakan nilainya ketika kita dilarang menikmatinya. Contoh ini datang dari Ibnu Umar radhiyallahu anhuma; apabila beliau berpuasa, beliau tidak berbuka kecuali bersama orang-orang miskin. Jika keluarganya menghalanginya, ia pun tidak makan pada malam itu. Inilah derajat amalan berempati kepada orang lain.

Ada derajat yang lebih tinggi lagi dari sebuah empati, yakni mengutamakan kepentingan orang lain daripada kepentingan pribadinya (itsar). Banyak sekali kaum salaf yang mengutamakan orang lain berbuka, meskipun mereka sendiri lapar.

Salah satu contohnya adalah kisah Imam Ahmad rahimahullah yang didatangi seorang pengemis ketika beliau berpuasa. Pengemis itu meminta makanan kepada Imam Ahmad. Imam Ahmad lantas memberikan kepadanya dua potong roti yang telah ia persiapkan untuk berbuka. Kemudian ia menahan lapar dan pagi harinya ia melanjutkan berpuasa.

Sumber :

  • muslim.or.id

No Comments

Tinggalkan Komentar