Info
Saturday, 23 May 2026
  • Telah dibuka Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) Tahun Ajaran 2026 / 2027 untuk TK, SD dan SMP Yaa Bunayya Islamic School, untuk info lebih lanjut silahkan hubungi kontak pada website.

ORANG TUA TAK RELA ANAKNYA DIHUKUM DI SEKOLAH

Wednesday, 17 December 2025 Oleh : admin

Oleh : Harits S.Pd
(Guru SD Yaa Bunayya Islamic School)

Bismillahirrahmanirrahim

Fenomena orang tua yang tak rela anaknya ditegur atau dihukum guru, bahkan ketika anaknya jelas salah, adalah masalah besar dalam dunia pendidikan hari ini.

Ini bukan terjadi pada satu dua keluarga, tapi sudah menjadi gejala sosial. Berikut beberapa sebab utamanya:

  1. Mental “Anak Harus Selalu Bahagia”

Banyak orang tua zaman sekarang memegang konsep keliru: *anak tidak boleh merasakan sakit, kecewa, takut, atau ditegur.

Padahal dalam pendidikan, rasa tidak nyaman itu bagian dari proses tumbuh dewasa. Akhirnya:

  • Semua teguran dianggap kekerasan.
  • Semua hukuman dianggap merendahkan anak.

Padahal anak sedang belajar konsekuensi dari perbuatannya.

  1. Krisis Adab kepada Guru

Di banyak rumah tangga, nilai menghormati guru mulai memudar.

Padahal salaf mengatakan:

ابن سيرين رحمه الله:

«كانوا يتعلمون الهدي قبل العلم»

“Mereka (para salaf) mempelajari adab sebelum mempelajari ilmu.”

(Al-Khatib al-Baghdadi, Iqtidha’ al-‘Ilm al-‘Amal)

*Orang tua yang tidak menghormati guru, otomatis sulit mengajarkan adab itu kepada anak.*

  1. Ego Orang Tua dan Krisis Tanggung Jawab

Sebagian orang tua tidak siap menerima kenyataan bahwa anaknya bisa salah. Seolah kesalahan anak adalah cermin buruk bagi mereka, sehingga mereka defensif.

Maka yang terjadi:

*Anak salah → orang tua malu → malah menyerang guru. Ini bukan pembelaan anak, tapi pembelaan ego.*

  1. Pengaruh Media Sosial

Media sosial membuat berbagai kasus “guru menghukum murid” viral tanpa konteks.

Akibatnya:

  • Guru dianggap selalu bersalah.
  • Masyarakat cepat menghakimi.
  • Orang tua menjadi mudah tersulut sebelum tabayyun.
  1. Hilangnya Kerja Sama Rumah dan Sekolah

Dulu: rumah dan sekolah satu suara dalam mendidik.

Sekarang: rumah dan sekolah sering berlomba menjadi pihak yang “paling membela anak”.

Guru menegur → orang tua langsung protes.

Padahal seharusnya:

Guru menegur → orang tua mendukung → anak berubah.

  1. Mental “Customer” dalam Pendidikan

Karena banyak sekolah berbasis biaya, sebagian orang tua merasa:

“Aku bayar, maka guru tidak boleh menyentuh anakku.”

Pendidikan dipersepsikan seperti jasa layanan, bukan amanah tarbiyah.

  1. Anak Dijadikan “Pusat Dunia”

Ini adalah akar dari banyak masalah.

Orang tua menjadikan anak sebagai:

  • Pusat kebahagiaan
  • Pusat keputusan
  • Pusat perhatian

Sehingga ketika guru menegur, mereka merasa “kerajaan kecilnya” sedang diganggu.

  1. Tidak Ada Ketegasan dan Komunikasi Awal dari Sekolah

Sebagian lembaga tidak tegas di awal tentang Aturan disiplin, Bentuk hukuman dan Batasan guru.

Akibatnya orang tua menganggap hukuman sebagai tindakan pribadi, bukan bagian dari sistem pendidikan.

Kesimpulan:

Fenomena ini adalah kombinasi dari:

  1. Lemahnya adab
  2. Salah kaprah tentang kasih sayang
  3. Ego orang tua, dan
  4. Hilangnya kerja sama dengan sekolah.

*Jika ingin dunia pendidikan kembali kuat, maka harus dikembalikan lagi adab dasar, yaitu:*

“Guru dihormati, aturan dipatuhi, anak dididik — bukan disembah.”

 

Sumber :

No Comments

Tinggalkan Komentar