Info
Saturday, 02 May 2026
  • Telah dibuka Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) Tahun Ajaran 2026 / 2027 untuk TK, SD dan SMP Yaa Bunayya Islamic School, untuk info lebih lanjut silahkan hubungi kontak pada website.

MENJADI GURU YANG DIRINDUKAN

Friday, 8 August 2025 Oleh : admin

Oleh : Samsuri Riyanto, S. E., Gr
Kepala SMP islam yaa bunayya

 

Guru bukan hanya sosok yang mengajar di depan kelas, tetapi juga pribadi yang membimbing, menginspirasi, dan membekas dalam kenangan murid-muridnya. Menjadi guru yang dirindukan adalah cita-cita mulia yang mencerminkan keberhasilan dalam membentuk karakter dan hati siswa, bukan hanya kecerdasan intelektual semata. Dalam konteks pendidikan modern, guru dituntut untuk mampu menjalin hubungan emosional yang positif agar proses belajar tidak hanya efektif, tetapi juga bermakna.

Seorang guru yang dirindukan bukanlah sosok sempurna, tetapi sosok yang hadir secara utuh. Hadir bukan hanya fisik, tetapi juga secara emosional dan spiritual. Menurut Hargreaves (2000), hubungan emosional guru dan siswa sangat penting dalam proses belajar karena dapat meningkatkan motivasi, kedisiplinan, dan semangat belajar siswa. Guru yang peduli terhadap perkembangan emosional siswa akan lebih mudah membangun koneksi yang kuat.

Pendidikan bukan sekadar mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi juga nilai-nilai kehidupan. Guru yang dirindukan adalah mereka yang mampu menjadi teladan dalam tutur kata, perilaku, dan cara berpikir. Dalam penelitian oleh Lickona (1991) tentang pendidikan karakter, guru yang konsisten menunjukkan sikap positif dan integritas tinggi akan lebih dihormati dan dikenang oleh siswanya sepanjang hayat.

Menjadi guru yang dirindukan juga berarti memiliki kepedulian yang tinggi terhadap kondisi siswa. Tidak semua siswa datang dari latar belakang yang nyaman, dan guru sering menjadi satu-satunya sosok dewasa yang peduli dan mendengarkan. Menurut Noddings (1992), pendekatan care ethics dalam pendidikan menekankan pentingnya empati dan perhatian tulus dalam membangun hubungan guru dan murid.

Guru yang dirindukan tahu kapan harus serius dan kapan harus mencairkan suasana. Kepekaan dalam membaca situasi kelas merupakan keterampilan penting yang harus dimiliki. Dengan demikian, guru bisa menghidupkan suasana belajar tanpa membuat siswa tertekan. Goleman (1995) menyatakan bahwa kecerdasan emosional, termasuk kemampuan mengenali dan mengelola emosi, sangat penting bagi keberhasilan interaksi guru di kelas.

Kreativitas menjadi aspek penting lainnya dalam membentuk guru yang dirindukan. Siswa akan lebih tertarik dan terlibat jika pembelajaran dikemas secara menarik dan kontekstual. Penelitian oleh Sternberg (2006) menyatakan bahwa kreativitas guru dalam menyampaikan materi memiliki korelasi positif terhadap peningkatan partisipasi dan pencapaian akademik siswa.

Guru yang dirindukan senantiasa belajar dan memperbarui diri. Dunia pendidikan terus berkembang, sehingga guru perlu adaptif terhadap perubahan kurikulum, teknologi, dan metode pembelajaran. Menurut Fullan (2001), guru yang memiliki komitmen terhadap pembelajaran sepanjang hayat akan menjadi agen perubahan yang efektif dalam dunia pendidikan.

Selain kompetensi profesional, guru juga perlu mengembangkan kompetensi sosial. Guru yang mampu berinteraksi secara baik dengan siswa, kolega, dan orang tua akan lebih mudah mendapatkan dukungan dalam proses pembelajaran. Kemampuan ini selaras dengan standar kompetensi guru yang ditetapkan oleh Permendiknas No. 16 Tahun 2007.

Menjadi guru yang dirindukan juga berarti mampu meninggalkan jejak dalam hati murid. Jejak ini bukan hanya karena prestasi akademik, tetapi karena kebaikan hati, kesabaran, dan ketulusan dalam mendampingi mereka tumbuh. Banyak siswa yang mengingat gurunya bukan karena pelajaran yang diajarkan, tetapi karena bagaimana guru tersebut membuat mereka merasa dihargai dan disayangi.

Dalam budaya Indonesia yang menjunjung tinggi nilai-nilai kekeluargaan, sosok guru yang dirindukan adalah mereka yang mampu menjadi “orang tua kedua” di sekolah. Guru seperti inilah yang mampu menjadi tempat kembali saat murid dewasa, mengenang masa-masa sulit dan indah selama sekolah. Sosok seperti ini tidak lekang oleh waktu, tetap dikenang meski sudah tidak bersama lagi.

Akhirnya, menjadi guru yang dirindukan bukanlah sebuah status, melainkan hasil dari proses panjang membangun hubungan, memberi keteladanan, dan menghadirkan cinta dalam setiap tindakan. Seperti sabda Rasulullah SAW, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain” ((HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni. Hadits ini dihasankan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami’ no:3289). Maka menjadi guru yang dirindukan adalah menjadi manfaat yang kekal, bahkan saat tubuh tak lagi hadir di ruang kelas.

Daftar Pustaka:

  1. Hargreaves, A. (2000). Mixed emotions: Teachers’ perceptions of their interactions with students. Teaching and Teacher Education, 16(8), 811–826.
  2. Lickona, T. (1991). Educating for Character: How Our Schools Can Teach Respect and Responsibility. Bantam Books.
  3. Noddings, N. (1992). The Challenge to Care in Schools: An Alternative Approach to Education. Teachers College Press.
  4. Goleman, D. (1995). Emotional Intelligence. Bantam Books.
  5. Sternberg, R. J. (2006). The Nature of Creativity. Cambridge University Press.
  6. Fullan, M. (2001). The New Meaning of Educational Change. Teachers College Press.
  7. Permendiknas No. 16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru.
  8. Hadis Riwayat (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni. Hadits ini dihasankan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami’ no:3289).

No Comments

Tinggalkan Komentar