Info
Thursday, 18 Jul 2024
  • Telah dibuka Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) Tahun Ajaran 2023 / 2024 untuk TK dan SD Yaa Bunayya Islamic School, untuk info lebih lanjut silahkan hubungi kontak pada website.

Sifat dan Karakter Anak Usia 2-7 Tahun (Fase Ghulam/Thufulah)

Tuesday, 26 October 2021 Oleh : admin
Penulis : Catri Pebriyani
(Guru TK YBIS)
   

Abi Umi harus tau, bahwa pertumbuhan anak-anak melewati beberapa fase. Masing-masing fase memiliki ciri tersendiri, yang mempengaruhi cara atau metode mendidik anak yang tepat.

Menurut banyak pakar parenting dan pendidikan anak, fase usia 2-7 tahun adalah fase terpenting dalam kehidupan manusia.

Sehingga Abi Umi harus paham mengenai sifat dan karakter anak di fase usia ini, agar nantinya bisa memperlakukan anak dengan pendidikan yang semestinya.

Berikut sifat dan karakter anak usia 2-7 tahun yang dinukil dari kitab karya Syaikh Ahmad bin ath-Thoyyar:

1. Banyak Bergerak dan Tidak Bisa Diam

(Katsorul harokah wa ‘adamul istiqror)

Anak-anak di fase ini sedang dalam fase pertumbuhan organ tubuh (termasuk otot dan syaraf). Sehingga, anak usia ini sedang mengeksplorasi tubuh mereka, dengan banyak bergerak.

2. Penduplikasi Ulung

(Syiddatut Taqlid)

Allah Ta’ala memberi karunia instrumen belajar pada setiap anak. Dengan instrumen-instrumen belajar ini, anak-anak menyerap segala di sekelilingnya, yang baik dan buruk. Oleh sebab itu, dibutuhkan teladan yang baik.

3. Suka “Ngeyel” (Membantah)

(Al-‘inaad)

Anak suka “ngeyel” adalah tanda perkembangan kemandirian dalam diri anak, proses mereka belajar untuk mempertahankan diri, beradaptasi dan menjadi pemberani.

4. Belum Bisa Memilah Benar dan Salah

(‘Adanut tamyiizi bayna ash-showab wal khotho’)

Anak di fase usia ini kognisinya masih belum berkembang sempurna. Sehingga, belum bisa membedakan mana yang baik dan buruk. Cara terbaik mendidik mereka adalah dengan memberikan alasan logis, konkret dan contoh.

5. Banyak Bertanya

(Katsrotul As’ilah)

Ini bagian dari perkembangan kognisi anak. Rasa keingintahuan anak semakin tinggi. Sehingga, anak semakin sering dan banyak bertanya. Orang tua perlu bijak, memberi jawaban sesuai kemampuan berpikir anak.

6. Kemampuan Memori yang Tajam

(Dzaakirotu haadah aaliyah)

Memori anak itu bersih dan terbebas dari keburukan. Oleh sebab itu, orang tua patut berupaya semaksimal mungkin mengisi memori anak dengan kebaikan.

7. Senang Dimotivasi / Dipuji

(Hubbut tasyji’)

Ini sejatinya tabiat setiap manusia: senang diapresiasi. Apresiasi/pujian merupakan penggerak amalan. Selain itu, pujian bermanfaat salah satunya untuk menumbuhkan kepercayaan diri anak.

8. Senang Bermain dan Bersenang-senang

(Hubbul la’ib wal maroh)

Bermain dan bercanda merupakan kebutuhan anak. Sebagaimana dipahami para Nabi, salah satunya Nabi Ya’qub ‘alaihissalaam yang dikisahkan dalam QS. Yusuf [12] ayat 12. Permainan adalah sarana anak belajar skill serta menstimulasi kemampuan dan potensinya.

9. Senang Berkompetisi dan Lomba (Bersaing)

(Hubbut tanaafusi wat tanaahuri)

Ini merupakan bagian dari sifat egosentris anak yang ingin selalu terdepan, diperhatikan dan dipuji, ingin bersaing adalah wajar, namun orang tua perlu mengarahkan dengan baik, agar dapat menjadi faktor pendorong di dalam tafawwuq (kepiawaian) dan ibtikar (inovatif/kreatif).

10. Berfikir Imajinatif

(At-Tafkiiru Al-khoyaali)

Ini adalah bagian dari perkembangan akal dan proses berpikir manusia. Fase ini adalah momen terbaik menanamkan aqidah shalihah.

11. Cenderung Mudah Belajar Skill Baru

(Al-maylu Liktisaabil Maharoot)

Karena secara mendasar meniru dan mencontoh orang tuanya, demikian pula mencontoh skill orang tuanya.

12. Perkembangan Bahasa Yang Cepat

(An-Namwu Al-Lughowi Sarii’un)

Sebagaimana anak mdah belajar skill baru, demikian pula dengan kemampuan berbahasanya. Oleh sebab itu, orang tua hendaknya berbicara dengan cara yang baik, lemah lembut, santun, dengan bahasa yang jelas dan sederhana.

13. Cenderung Suka Bongkar Pasang

(Al-Maylu Lil Fakki wat Tarkib)

Keinginan anak untuk membongkar sesuatu (meski tidak selalu bisa menyatukan kembali) seringkali dianggap perbuatan merusak. Padahal ini sejatinya adalah bagian dari rasa keingintahuan anak. Orang tua hendaknya mengarahkan: tidak terlalu strict (sering melarang), namun juga tidak terlalu permisif.

14. Emosi Yang Tinggi

(Haddatul Infi’aalaat)

Di fase ini, anak masih mengenal apa yang ada di dalam dirinya, termasuk emosinya. Anak cenderung merespon dengan emosi yang sama dalam hal yang penting (haamah) maupun yang remeh (taafihah).

Sekarang Abi Umi bisa lihat kira-kira sudahkah kita para orang tua besikap tepat saat menghadapi  anak yang menunjukkan salah satu karakter diatas??

Semoga kita senantiasa bisa lebih baik setiap harinya, Semoga Bermanfaat.

Sumber : “Seni Mengasuh Anak fase Thufulah (2-7 tahun) / Ustadz Abu Salma Muhammad”  

No Comments

Tinggalkan Komentar