Info
Thursday, 18 Jul 2024
  • Telah dibuka Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) Tahun Ajaran 2023 / 2024 untuk TK dan SD Yaa Bunayya Islamic School, untuk info lebih lanjut silahkan hubungi kontak pada website.

Overdependent (Masalah Ketidakmandirian Anak)

Wednesday, 17 November 2021 Oleh : admin
Penulis : Adelia Intan Rahmaniar
(Guru TK YBIS)
   

Pernahkah melihat seorang anak yang tidak bisa ditinggal sang Ibu ketika berada di sekolah? Sehingga Ibu harus ikut masuk mendampingi anak di dalam kelas. Anak yang bersembunyi di belakang badan sambil memegang erat pakaian Ibu atau Ayah seolah tidak mau terpisah dari kedua orang tua nya? atau anak yang menangis tidak mau terpisah tidak mau ditinggal pergi orang tua nya untuk bekerja?

Apa sebenarnya yang terjadi hingga anak menampilkan perilaku tersebut ?

Istilah Dependent artinya bergantung atau ketergantungan. Jadi istilah Overdependent pada anak dapat diartikan perilaku sangat bergantung anak kepada figur orang dewasa. Dengan kata lain anak memiliki ketergantungan yang berlebihan kepada orang dewasa terdekat seperti ibu, ayah, kakak atau pengasuh. Seringkali masyarakat awam menyebut perilaku Overdependent pada anak dengan istilah anak “Manja”.

Perilaku Dependent atau ‘bergantung’ seringkali ditampilkan oleh anak dengan perilaku meminta bantuan kepada orang lain sekalipun untuk hal kecil seolah-olah ia tidak mampu untuk melakukannya sendiri. Anak juga kerapkali meminta disayang dan mencari perhatian dari orang dewasa (biasanya orang tua, nenek/kakek atau pengasuh) secara berlebihan. Perilaku Overdependent ditunjukkan anak dengan merengek, menangis, memotong pembicaraan orang, meminta bantuan kepada orang lain untuk hal kecil. Pada anak usia 4-5 tahun biasanya ditunjukkan dengan perilaku ‘menempel’ kepada orang tua sehingga kerapkali menangis dan tidak mau ditinggalkan walaupun hanya sebentar.

Banyak orang tua yang tidak menyadari jika anak mereka tergolong Overdependent. Beberapa orang tua beranggapan perilaku tidak matang (immature) yang ditampilkan oleh anak mereka adalah hal biasa dan akan berubah seiring waktu.

Anak yang overdependent adalah yang memiliki ciri-ciri diantaranya afeksi, suka mencari perhatian yang berlebihan kepada lingkungan nya. Jika tidak mendapat hal yang mereka inginkan maka anak akan marah, kesal, kecewa.

Anak dengan overdependent ialah yang suka memotong pembicaraan atau sedang bicara kepada anak kemudian anak sering mengalihkan pembicaraan ke topik yang lain.

Overdependent, anak yang sering melakukan atau meminta orang tua melakukan sesuatu yang bisa mereka lakukan sendiri. Misalnya meminta untuk mengambil air minum di dapur yang bisa dilakukan sendiri, termasuk memakai baju nya sendiri.

Anak yang terlalu bergantung pada orang tua karena alasan terlalu sayang atau “anak satu-satunya”, sifat manja pada anak ini berakibat membunuh kreatifitas serta inisiatif seorang anak. Dan yang paling parah berdampak tidak mampu bertahan hidup, karena kemampuan adaptasi atau “survival” anak yang rendah.

Justru, orang tua harus mengusahakan untuk menumbuhkan kreatif, inisiatif, dan membuat anak membantu dirinya sendiri. Bukan mengharap pada orang lain.

Ciri selanjutnya pada seorang anak yang overdependent ialah, Suka merengek

Kenapa anak masih suka merengek terutama pada usia 4 atau 5 tahun ? Karena orang tua yang tidak membiasakan anak menjadi mandiri, Misalnya anak selalu merengek ketika Ayah dan Ibu akan pergi, orang tua harus sembunyi-sembunyi hingga berbohong pada anak dengan berbagai alasan untuk meyakinkan bahwa Ayah atau Ibu tidak akan pergi kemana-mana dan akan terus berada didekat sang anak. Lalu apa yang harus dilakukan untuk merubahan kebiasaan merengek anak agar anak mampu terbiasa mandiri.

Hal pertama ialah tidak perlu berbohong. Dari kasus ini, anak perlu melihat orang tua pergi keluar rumah untuk bekerja atau keperluan lain.

Bicara apa adanya dan berkata jujur kepada anak. Walaupun anak akan menangis pada kali pertama dan kedua, tetapi hari-hari selanjutnya anak akan terbiasa dan tidak menangis. Anak-anak membutuhkan pembiasaan karena mengamati respon. Ketika mengamati respon, anak akan belajar hal tertentu dan pola ini akan menetap pada diri dan ingatan.

Tetapkan pola jujur pada anak, apa adanya. apabila anak menangis ketika ditinggal pergi, maka dibiarkan saja. Karena menangis sebagai bentuk beradaptasi dengan dirinya, hal ini wajar bagi anak-anak.

Selain merengek, biasanya suka menangis dan ketika meminta apa-apa harus dipenuhi, mereka menganggap lingkungan sekitar sebagai pemenuh kebutuhan anak. Ini yang harus diganti, karena pola ini egosentris pada anak.

Apa Penyebab Overdependent ?

1. Pengasuhan dan penguatan yang salah dari orang tua

Anak-anak belajar memanipulasi orang tua untuk mendapatkan hal yang mereka inginkan.

Manipulasi yang dilakukan pada anak untuk mengendalikan kedua orang tua, misalnya anak melakukan hal yang menggemaskan sehingga orang tua menyambut hal ini, orang tua menganggap hal yang dilakukan adalah wajar dan lucu. Seolah orang tua membiasakan perlakuan anak-anak, sehingga mereka belajar overdependent kepada orang tua nya,

Orang tua seringkali membiarkan atau tidak ingin anak berkembang seolah memperlakukan anak dibawah usia anak. Sehingga perlakuan-perlakuan anak yang membuat orang tua “gemas” bisa menjadi pembenaran bagi anak. Padahal yang dilakukan anak adalah sesuatu yang seharusnya tidak dilakukan, misalnya bersendawa, atau buang angin jika pada hal ini orang tua hanya tertawa maka akan menjadi pembenaran dan pembiasaan bagi anak. Hal ini perlu koreksi dari orang tua dan perlakukan anak sesuai dengan usia nya.

2. Merasa bersalah

Rata-rata orang tua tampak melunak pada anak. Rasa bersalah yang terlalu besar pada anaknya. Ini bukan cara Pendidikan yang tepat, memberi keleluasaan tanpa syarat serta tanpa ada Batasan ini juga tidak tepat.

3. Permisif

Permisif adalah bermudah-mudahan pada anak, terlalu memanjakan anaknya. Permisif adalah sikap sayang kepada anak, namun sayang yang tanpa ilmu. Apabila ini terjadi maka tidak diimbangi dengan ilmu.

4. Attention And Power

Merengek atau menangis adalah upaya untuk mendapat perhatian orang tua nya. ketika sudah mendapat perhatian itu, anak akan menyalahgunakan untuk mengendalikan orang tuanya

5. Narsistik

Suka menjadi pusat perhatian. Bisa jadi membuat anak “bossy“.

Bagaimana Cara Mencegah Anak Overdependent ?

1. Sebagai Orang Tua Kita Harus Mendorong Anak Untuk Mengambil Keputusan

Biasakan untuk memberi pilihan untuk anak – anak. Karena pilihan yang orang tua berikan kepada anak akan muncul menjadi alternatif di kepala mereka. Yang pada masa mendatang anak-anak terbiasa untuk memiliki “plan” yang banyak dan anak tidak mudah cemas.

Sebagai orang tua harus banyak pilihan dan mendorong anak untuk mengambil keputusan sejak dini. jangan sampai menjadi orang tua dengan pola asuh otoriter, yang mengatur segala sesuatu. Karena hal ini akan mendorong anak menjadi pribadi yang pencemas, anak terlihat menjadi anak yang penurut tapi seorang “Dependent” dibaliknya, menjadi anak yang pasif.

2. Beri Dukungan Dari Awal

Dukungan ini sangat penting, bahwa anak – anak perlu dukungan dan supervisi dari orang tua, menemani anak ketika bermain, membiarkan anak melakukan hal-hal positif apa saja dengan pendampingan orang tua. Ketika dewasa kelak, tumbuh kemandirian atau “self esteem” pada anak, di mana harga diri dan kepercayaan dirinya menjadi baik, anak merasa mampu untuk melakukan sesuatu.

3. Orang Tua Jangan Terlalu Mendominasi Anak

Dalam artian, jangan terlalu banyak mengatur dan mengomel kepada kesalahan anak. Terlalu banyak mengomel kepada kesalahan kepada anak tidak akan berdampak positif. Namun lakukan aksi untuk memberi contoh kepada anak. Jangan sampai menjadi orang tua inconsistent ketika memerintahkan sesuatu kepada anak orang tua hanya banyak berbicara tanpa memberi contoh yang sama kepada anak.  

4. Responsive

Orang tua lebih baik tidak menunda nunda ketika diperlukan oleh anak-anaknya. Orang tua harus memenuhi panggilan ketika anak membutuhkan orang tua pada saat itu.

Dibalik respon yang cepat muncul rasa aman pada diri nya, ini lah yang membentuk independent pada anak. Jangan sampai terlalu mengabaikan, yang akan berdampak insecure pada seorang anak.

Hal yang perlu diperhatikan ketika ingin memanjakan anak, yaitu

  • berikan apa yang dibutuhkan anak pada saat itu, usahakan untuk proporsional memberi sesuatu kepada anak karena sesuatu yang berlebih-lebihan akan mematikan sensitifitas nya
  • melakukan sesuatu yang anak mampu melakukan nya sendiri.

5. Sikap Tegas & Pasti

Diperlukan sikap tegas dari orang tua memberikan penjelasan yang logis atas tuntutan yang diberikan kepada anak. Menyampaikan kepada anak bahwa tidak akan ada toleransi apapun walau anak merengek atau menangis. Bersikaplah tegas dengan penjelasan yang pasti. Orang tua yang tidak konsisten (tidak tegas) maka yang terjadi anak akan bingung, emosi yang berantakan.

Tegas bukan berarti marah-marah. Namun tegas dengan aturan yang sudah disepakati bersama sebelumnya. Ketika anak berbuat salah atau perilaku yang tidak tepat orang tua tidak perlu marah-marah atau teriak, tapi tunjukkan dengan wajah serius, anak sudah bisa memahami sifat tegas orang tua

Diperlukan konsisten, pada anak serta berikan reward atas perilaku baik yang sudah dilakukan.

Sumber :
Bercerita, Kak Erlan. 2021. “Kelas Parenting #9: "Overdependent" - Kak Yogi Kusprayogi, M.Psi, Psikolog” . Youtube, https://www.youtube.com/watch?v=iPTCCyuI44M

Sylvana N, Eva. 2020. “APAKAH OVERDEPENDENT PADA ANAK?”. http://atensi.id/2020/09/15/apakah-overdependent-pada-anak/ , diakses pada 16 November 2021 pukul 17.01

No Comments

Tinggalkan Komentar