Info
Saturday, 13 Apr 2024
  • Telah dibuka Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) Tahun Ajaran 2023 / 2024 untuk TK dan SD Yaa Bunayya Islamic School, untuk info lebih lanjut silahkan hubungi kontak pada website.

Every Child is Special (Dyslexia)

Friday, 26 November 2021 Oleh : admin
Penulis : Lilis Hidayah
(Guru TK YBIS)
   

Dalam pendidikan salah satu tujuan yang hendak dicapai adalah menstimulasi kemampuan dasar peserta didik untuk dapat menerima informasi ataupun pengetahuan yang diberikan oleh pendidik untuk mengembangkan potensi dirinya. Salah satu bentuk kemampuan dasar tersebut adalah kemampuan membaca. Dengan membaca dapat membantu peserta didik untuk dapat menerima maupun menggali lebih dalam mengenai informasi ataupun pengetahuan. Hodgson (Tarigan,  2008  :  7) menjelaskan bahwa “membaca adalah suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan yang hendak disampaikan penulis melalui media kata-kata atau bahasa tulis, suatu proses yang menuntut agar kelompok kata yang merupakan suatu satu kesatuan akan terlihat dalam suatu pandangan sekilas dan makna kata-kata secara individual akan dapat diketahui”. Jika dalam proses pemerolehan pesan dalam membaca tidak terlaksana dengan baik, pesan secara tersurat dan tersirat yang diberikan oleh penulis tidak akan tertangkap atau dipahami. Dengan demikian membaca  membutuhkan kemampuan visual dan kognisi untuk memberikan makna pada lambang-lambang huruf.

Kemampuan yang dimiliki setiap manusia tidaklah sama, begitu pula dalam kemampuan membaca. Tri (2014  : 11) mendefiniskan “kemampuan membaca merupakan kesanggupan seseorang memahami gagasan-gagasan dan lambang bunyi bahasa yang ada dalam sebuah teks bacaan yang diinginkan”. Apabila kemampuan membaca ini mengalami gangguan, begitu pula proses mendapatkan informasi dalam membaca akan ikut terganggu sehingga bisa timbul ketertinggalan dalam proses belajar. Setiap anak memiliki masa perkembangannya, yang terkadang berbeda untuk setiap anaknya. Hambatan selama masa perkembangan bisa terjadi karena berbagai hal, salah satunya karena hambatan pada otak. “Dalam masa perkembangan terkadang akan ada hambatan, kemungkinan terjadi  hambatan tersebut disebabkan oleh hambatan otak (sistem syaraf pusat) pada masa prenatal, perintal, dan selama usia satu tahun pertama” (Hidayat,  2009).

Kata disleksia berasal dari bahada Yunani yaitu dyslexia, “dys” berarti kesukaran dan “lexis” berarti berbahasa, yang berarti kesukaran dalam berbahasa. Secara sederhana disleksia merupakan gangguan dalam kemampuan berbahasa terutama membaca sehingga anak disleksia memiliki kesulitan tersendiri saat membaca sebuah kalimat, dikarenakan kesulitan dalam memahami huruf dan sulit membedakannya. Dengan begitu bisa menimbulkan kesulitan dalam belajar bagi seorang anak.

Disleksia dapat muncul dikarenakan beberapa sebab yang ada. Beberapa penyebab dari disleksia, yaitu sebagai berikut:

1. Biologis

Di antara yang termasuk dalam kesulitan membaca yang disebabkan oleh faktor biologis, yaitu riwayat keluarga yang pernah mengalami disleksia, kehamilan yang  bermasalah, serta masalah kesehatan yang cukup relevan.

2. Kognitif

Faktor kognitif dijadikan sebagai penyebab disleksia diantaranya, yaitu pola artikulasi bahasa dan kurangnya kesadaran fonologi pada individu yang bersangkutan.

3. Perilaku

Faktor perilaku yang dapat dijadikan sebagai faktor penyebab disleksia yaitu masalah dalam hubungan sosial, stres yang merupakan implikasi dari kesulitan belajar, serta gangguan motorik.

Disleksia bukanlah gangguan yang mempengaruhi kecerdasan seseorang, anak disleksia tidaklah bodoh, mereka hanya lambat dalam hal belajar, yang menyebabkan mereka menjadi tertinggal dibandingkan dengan teman-teman sebayanya. Kondisi mental mereka tidak terganggu, tidak perlu orangtua sampai memasukan anaknya ke Sekolah Luar Biasa (SLB) hanya karena disleksia. Lain cerita bila disleksia ini dibarengi dengan kebutuhan khusus lainnya. Vitriani Sumarlis, Wakil Ketua Asosiasi Disleksia Indonesia mengatakan bahwa, “anak disleksia tidak cocok masuk SLB, SLB lebih tepatnya untuk anak berkebutuhan khusus lainnya seperti tunagrahita atau tunarungu. Sekolah tersebut menampung anak-anak dengan kecerdasan dibawah normal atau IQ dibawah 62, sementara anak disleksia memiliki IQ rata-rata 90 hingga 110.

Adapun ciri-ciri anak yang memiliki disleksia yaitu:

  1. Membaca dengan amat lamban dan terkesan tidak yakin atas apa yang ia ucapkan.
  2. Menggunakan jarinya untuk mengikuti pandangan matanya yang beranjak dari satu teks ke teks berikutnya.
  3. Melewatkan beberapa suku kata, frasa atau bahkan baris-baris dalam teks.
  4. Menambahkan kata-kata atau frasa- frasa yang tidak ada dalam teks yang dibaca.
  5. Membolak-balikan susunan huruf atau suku kata dengan memasukan huruf-huruf lain.
  6. Salah melafalkan kata-kata dengan kata lainnya, sekalipun kata yang diganti tidak memiliki arti yang penting dalam teks yang dibaca.
  7. Membuat kata-kata sendiri yang tidak memiliki arti.
  8. Mengabaikan tanda-tanda baca.

Selain itu, disleksia juga dibagi menjadi tipe-tipe seperti di bawah ini:

  1. Penambahan (Addition); Menambahkan huruf pada suku kata. Contoh : suruh- disuruh, gula-gulka, buku-bukuku.
  2. Penghilangan (Omission); Menghilangkan  huruf  pada suku  kata.  Contoh  :  kelapa-lapa, kompor -kopor, masak-masa.
  3. Pembalikan kiri-kanan (Inversion); Membalikkan bentuk huruf, kata, ataupun bahkan dengan arah terbalik kiri kanan. Contoh : buku-duku, palu-lupa, menulis angka 3 secara terbalik.
  4. Penambahan atas-bawah (Reversal); Membalikkan bentuk huruf, kata, ataupun angka dengan arah terbalik atas bawah. Contoh nana-uaua, mama-wawa, 2-5, 6-9.

Lalu, bagaimana ketika anak kita telah terdeteksi memiliki disleksia? Orang tua atau guru sebagai lingkungan pembelajar anak hendaknya memiliki pengetahuan yang baik mengenai hambatan belajar disleksia ini agar dapat menanganinya. Dalam kegiatan belajar di kelas maupun di rumah orang tua atau guru dapat menstimulasi perkembangan kognitif anak dengan disleksia melalui kegiatan yang dapat merangsang indera penglihatan dan pendengaran secara maksimal. Misalnya mengenalkan huruf-huruf dan angka-angka dengan “flashcard“. Mengajak anak bermain pasir untuk belajar menulis huruf atau angka dengan media belajar pasir. Berikan anak reward dari setiap apa yang dilakukan. Kuncinya adalah pembelajaran dilakukan secara berulang dan terus-menerus serta menyenangkan agar anak tidak merasa terbebani. Dan yang terpenting adalah setiap anak adalah spesial dengan kemampuannya.

Sumber:
Haifa, Nisrina., Ahmad, Mulyadiprana., Resa, Respati. (2020). Pengenalan Anak Pengidap Disleksia. Jurnal Ilmiah Pendidikan Guru Sekolah Dasar  UPI,7, (21-32).

No Comments

Tinggalkan Komentar