Info
Sunday, 16 Jun 2024
  • Telah dibuka Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) Tahun Ajaran 2023 / 2024 untuk TK dan SD Yaa Bunayya Islamic School, untuk info lebih lanjut silahkan hubungi kontak pada website.

Bingung Mendisplinkan Anak Yang Sensitif? Yuk Terapkan 8 Hal Ini Kepada Anak Kita

Monday, 15 August 2022 Oleh : admin

Oleh : Fithriyah Dinah Shalihah S.Psi
(Guru SD YBIS)

Sebelum kita mengetahui tips cara mendisiplinkan anak yang sensitif, ada baiknya kita ketahui lebih dahulu yuk fakta tentang anak yang sensitif.

Mengenal lebih dalam Tentang  Anak yang Sensitif “Highly Sensitive Child”

Pasti Abi dan Ummi sering menghadapi situasi anak sering menangis, cemas, sangat bergantung kepada Abi dan Ummi, Kemudian, anak yang sensitif mudah sekali untuk kewalahan, emosi yang meledak-ledak, mudah marah, ketakutan yang berlebih, dan juga penuh gairah dan rasa sangat bersemangat.

Beberapa anak tidak hanya sensitif secara emosional, tetapi juga sensitif terhadap apapun yang bersifat fisik yang dapat memicu indra sang anak. Seperti kebisingan atau suara keras, cahaya terang, atau tekstur tertentu yang dapat anak bersemangat. Atau bahkan mungkin juga situasi keramaian yang membuat anak takut pada kerumunan besar (Plues, dkk, 2018). Akibatnya, anak-anak yang sensitif kerap ragu untuk mencoba hal-hal baru dan kerap merasa frustasi.

Tahukan Abi dan Ummi faktanya anak yang sensitif terlahir dengan sistem saraf yang sangat sadar dan cepat dalam memproses segala sesuatu baik lingkungan, bau, suara, dan suasana hati. Sekitar 15-20% terlahir dengan kondisi demikian (Psychology today, 2011). Lebih lanjut, Maureen Healy yang merupakan pakar kesehatan emosional anak mengatakan dikarenakan anak yang sensitif memiliki tingkat kesadaran yang tinggi biasanya sang anak memiliki beberapa kelebihan yaitu intelektual, kreatif, empati yang tinggi. Namun terdapat juga beberapa kekurangan, yaitu anak mudah kewalahan dengan keramaian, suara bising, situasi baru, perubahan mendadak, dan tekanan emosional orang lain.

Lebih lanjut, anak- anak yang sensitif pada saat bermain dengan temannya, akan sangat terganggu apabila teman-temannya mulai menyebut “anak yang cengeng” atau “anak yang mudah marah”.

Dengan kompleksitas emosi sang anak tentu tidak mudah bagi Abi dan Ummi untuk mendidik dan mendisplinkan anak. Kerap sekali Abi dan Ummi merasa bingung bagaimana menghadapi ketika sedang sangat sensitif. Mungkin ada beberapa diantara Abi dan Ummi menuruti kehendak anak, atau menghukum anak.

Tahukah Abi dan Ummi bahwa mendisplinkan anak yang sensitif dengan memberi hukuman yang keras hanya memperburuk kondisi sang anak. Lalu bagaimana cara mendisplinkan anak yang sensitif ya? Yuk lakukan tips-tips di bawah ini!

8 Cara Mendisplikan Anak yang Sensitif, Ternyata Banyak yang Luput di Nomor 4!

 

Menurut Morin (2017) seorang psikoterapis mengatakan terdapat beberapa tips dalam mendisplinkan anak yang sensitif, diantaranya :

  1. Menerima Bahwa Anak Kita Memiliki Sensitif Yang Lebih

Jika anak sedang merasakan emosi negatif dan sedang sensitif, sebaiknya Abi dan Ummi tidak perlu mengubah tempramennya. Mungkin Abi Ummi pernah merasa bahwa “anak saya lemah dan cengeng”. Mulai sekarang ubah pandangan tersebut ya. Pandanglah sisi positif dari sang anak, seperti memiliki empati yang tinggi, mudah peka terhadap kondisi situasi sekitar.

Ketika anak sedang sensitif jadikan hal tersebut momen untuk mengajari sang anak bagaimana

cara mereka menenangkan emosi mereka sendiri, hal ini bisa dijadikan momen untuk meningkatkan kecerdasan emosi sang anak. Yang nantinya menjadikan suatu bekal anak untuk

berbelas kasih dan dan berbuat baik kepada orang lain.

 

  1. Memiliki Waktu Senggang Untuk Anak

Anak-anak yang sensitif dapat terstimulasi secara lebih di kondisi kerumunan besar, cahaya terang, dan lingkungan yang kacau. Berikan waktu luang untuk anak agar lebih banyak di rumah, berikan kondisi yang aman dan anak dapat bersantai. Hindari memberikan anak jadwal yang padat.

Tips yang dapat yang Abi Ummi lakukan di rumah, yaitu Abi Ummi dapat membuat ruang khusus dimana anak dapat bermain, mewarnai, membaca buku. Gunakan ruangan ini ketika anak sedang tempramen. Dan ketika anak sedang meluap-luap emosinya berikan ruang dan jeda bagi sang anak untuk mengembalikan tenaga mereka.

 

  1. Tetap Teguh Dalam Mendisiplinkan

Penting sekali bagi Abi dan Ummi untuk tetap teguh dalam mendisiplinkan anak. Meskipun mungkin sedikit tergoda mengiyakan kehendak sang anak agar anak tidak marah dan menjadi sensitif. Namun beberapa diantara Abi dan Ummi tidak konsisten dalam mendisplinkan sang anak. Tahukah Abi Ummi apabila kita mengesampingkan kedisplinan anak? Yaitu anak menjadi tidak belajar tentang konsekuensi dari tindakan yang dilakukan. Penting bagi sang anak mengetahui konsekuensi dari yang mereka lakukan apabila melanggar aturan. Anak menjadi belajar mana yang boleh dan tidak. Pastikan dalam mendisiplinkan anak pada saat melanggar aturan untuk lebih lembut dalam pendekatannya ya.

 

  1. Pujilah Usaha Anak Bukan Hasil

Anak-anak yang sensitif membutuhkan lebih banyak dorongan dari Abi, Ummi, Guru, dan Orang yang lebih tua lainnya. Pujilah usaha yang dilakukan sang anak. Banyak diantaranya mungkin lebih memuji hasil sang anak dibanding usaha yang telah mereka lakukan.

Contohnya seperti nilai anak di sekolah. Ketika anak mendapatkan nilai kecil atau nilai rata-rata. Mungkin diantara Abi dan Ummi melontarkan keluhan seperti nilainya menurun, bertanya mengapa mendapat nilai yang kecil atau bahkan menyalahkan sang anak.

Alangkah baiknya Abi dan Ummi memuji usaha sang anak dalam mendapatkan nilai ujian tersebut. Seperti “Masyaa Allah, Ummi Abi bangga dengan kakak sudah berusaha belajar dengan giat, tapi untuk ujian kedepannya kakak harus usaha lebih giat lagi ya supaya nilainya lebih tinggi lagi”

Contoh hal lainnya adalah ketika anak berkata jujur kepada Abi dan Ummi. Tahukah Abi dan Ummi bahwa anak yang sensitif cenderung berbohong dalam menutupi kesalahannya apalagi hal tersebut membuat Abi dan Ummi tampak tidak senang, Tindakan berbohong bagi sang anak adalah cara menghadari mereka dari masalah. Maka dari itu sangat penting bagi Abi dan Ummi memberikan pujian ketika sang anak mengatakan yang sebenarnya.

Tak kalah pentingnya, anak-anak sensitif seringkali sangat penyayang dan baik hati lho! Pujilah sang anak apabila mereka mengenali perasaan orang lain. Hal ini akan memperkuat sikap baik anak kepada orang lain. dan hal tersebut mendorong sang anak untuk tetap memikirkan perasaan orang lain.

 

  1. Berikan Reward

Memberikan hadiah dapat membantu merayakan pencapaian anak dan mengubah perilaku sang anak. Pemberian hadiah disini tidak perlu yang mewah, mahal, atau yang besar. Contohnya “kalau kakak mau belajar, Ummi buatkan makanan kesukaan kakak” atau “kalau kakak mau shalat lima waktu, Abi temani kakak bermain mobil-mobilan.”

 

  1. Mengajarkan Mengungkapkan Emosi Kepada Anak

Anak-anak yang sensitif perlu belajar bagaimana mengungkapkan perasaan mereka dan juga sang anak perlu belajar cara yang tepat untuk mengatasi perasaannya. Abi dan Ummi dapat membimbing dan mengajari anak cara mengenal dan menangani perasaan tidak nyaman yang dialami sang anak.  Seperti “Ummi lihat kakak cemberut, kakak lagi kesal ya?” ulangi dan tanyakan kepada sang anak sampai mereka mengatakan bahwa mereka kesal. Ummi Abi bisa menanyakan “Apa yang buat kakak kesal?” kemudian dengarkan keluhan sang anak dan Abi dan Ummi bisa berkata “Oh jadi kakak kesal karena tadi adik merebut mainan kakak ya” Abi dan Ummi bisa mengungkapkan emosi anak dan sebab akibat mengapa sang anak merasa emosi demikian. Ajarkan kepada sang anak bagaimana mengenali perasaan mereka dengan kata-kata. mengaitkan perasaan seperti contoh yang diatas akan membantu sang anak dalam berkomunikasi lebih baik dengan Abi dan Ummi, serta menjadikan kita lebih paham apa yang dirasakan oleh sang anak.

 

  1. Ajarkan Kepada Anak “Problem Solving”

Anak-anak sensitif sering merasa kewalahan oleh situasi dan terkadang sang anak kebingungan  bagaimana harus merespons. Dalam situasi ini, penting bagi sang anak untuk mengetahui bagaimana menemukan solusi yang dapat menghilangkan stres dan kecemasannya. Jadi, penting bagi orang tua untuk mengajari problem solving. Abi dan Ummi dapat mengajarinya sedikit demi sedikit, langkah demi langkah dalam menyelesaikan masalah.

 

  1. Terapkan konsekuensi dalam mendisiplinkan anak

Penting bagi Abi Ummi untuk memberikan konsekuensi kepada anak, walau anak sedang sedih, menangis. Anak-anak yang sensitif membutuhkan konsekuensi seperti anak lainnya. Hanya karena anak menangis atau merasa sedih bukan berarti mereka tidak mendapatkan konsekuensi

Abi Ummi juga perlu menjelaskan secara berulang tindakan anak dan sebab anak mendapatkan konsekuensi. Perlu Abi Ummi ingat, bahwa konsekuensi harus fokus pada disiplin, bukan hukuman. Dan juga, pastikan bahwa Abi dan Ummi tetap lembut dalam memberikan konsekuensi. Abi Ummi tidak perlu menggunakan suara keras dengan sang anak agar mereka paham.

Mendidik anak yang memiliki kesensitifan yang lebih tinggi memanglah melelahkan. Kerap kali kita sebagai orang tua selalu menuruti kehendak anak apabila ia sedang emosi. Namun hal itu bukanlah sesuatu kekurangan apabila anak memiliki kesensitifan yang lebih dibanding anak yang lain. Sebaiknya, sebagai orang tua melihat hal ini sebagai suatu kelebihan bagaimana mengasah kepekaan anak atau sebagai sesuatu hal yang dapat dimanfaatkan. Dengan memanfaatkan kepekaan mereka, seperti wawasan, kreativitas, dan empati, sekaligus belajar bagaimana untuk mengelola emosional mereka menjadi lebih dalam.

Semoga artikel ini memberikan manfaat dan dapat diterapkan bagi Abi, Ummi, serta pembacanya,

Jazaakumullahu Khairan wa Barakallahu fiik.

 

Referensi

Healy,M. (2012). Highly Sensitive Children 7 survival tips for success with highly sensitive children. Psychologytoday.com. https://www.psychologytoday.com/us/blog/creative-development/201206/highly-sensitive-children.

Morin, A, (2020). 8 Discipline Strategies for Parenting a Sensitive Child. Verywellfamily.com. https://www.verywellfamily.com/parenting-a-sensitive-child-8-discipline-strategies-1094942

Pluess, M., Assary, E., Lionetti, F., Lester, K. J., Krapohl, E., Aron, E. N., & Aron, A. (2018). Environmental sensitivity in children: Development of the Highly Sensitive Child Scale and identification of sensitivity groups. Developmental Psychology, 54(1), 51–70. http

No Comments

Tinggalkan Komentar