Info
Saturday, 13 Apr 2024
  • Telah dibuka Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) Tahun Ajaran 2023 / 2024 untuk TK dan SD Yaa Bunayya Islamic School, untuk info lebih lanjut silahkan hubungi kontak pada website.

Berbakti kepada Ayah

Monday, 4 September 2023 Oleh : admin

Penulis : Ari Saputra, S.Sos., M.Pd
(Kepala SD YBIS)

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Sesungguhnya di antara kewajiban yang ditekankan oleh agama kita dengan penekanan yang serius adalah berbakti kepada ayah. Sebagian orang hanya fokus untuk berbakti kepada ibunya. Tentu ini adalah kebaikan. Namun yang jadi masalah adalah mereka lupa untuk berbakti kepada ayah. Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَنْتَ وَمَالُكَ لِأَبِيْكَ

“Engkau dan semua hartamu adalah milik ayahmu.” [HR. Ibnu Majah].

Dalam Riwayat yang lebih lengkap disebutkan,

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ! إِنَّ أَبِي أَخَذَ مَالِيْ. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِلرَجُلٍ: اِذْهَبْ فَأْتِنِيْ بِأَبِيْكَ. فَنَزَلَ جِبْرِيْلُ عَلَى النَّبِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ يُقْرِئُكَ السَلَامَ وَيَقُوْلُ: إِذَا جَاءَكَ الشَيْخُ فَسَلْهُ عَنْ شَيْءٍ قَالَهُ فِي نَفْسِهِ مَا سَمِعَتْهُ أُذُنَاهُ. فَلَمَّا جَاءَ الشَيْخُ قَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَازَالَ ابْنِكَ يَشْكُوْكَ أَنَّكَ تَأْخُذُ مَالَهُ؟ قَالَ: سَلْهُ يَا رَسُوْلَ اللهِ هَلْ أَنْفَقَهُ إِلَّا عَلَى إِحْدَى عَمَّاتِهِ أَوْ خَالَاتِهِ أَوْ عَلَى نَفْسِيْ؟ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِيَّهُ دَعْنَا مِنْ هَذَا، أَخْبِرْنِيْ عَنْ شَيْءٍ قُلْتَهُ فِي نَفْسِكَ مَا سَمِعَتْهُ أُذُنَاكَ، قَالَ الشَيْخُ: وَاللهِ يَا رَسُوْلَ اللهِ مَا يَزَالُ اللهُ يَزِيْدُنَا بِكَ يَقِيْنًا، قُلْتُ فِي نَفْسِي شَيْئًا مَا سَمِعَتْهُ أُذَنَايَ. قَالَ: قُلْ وَأَنَا أَسْمَعُ. قَالَ: قُلْتُ:

Datang seorang lelaki dan mengadu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, ayahku mengambil hartaku.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Jemput ayahmu untuk menemuiku.”

Lalu Jibril datang lebih dulu menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jibril berkata, “Allah menitipkan salam untukmu.” Jibril melanjutkan, “Kalau orang tuanya menemuimu, tanyakan padanya tentang sesuatu yang ia bisikkan pada dirinya dan belum pernah terlontar sehingga terdengar di kedua telinganya sendiri.”

Saat orang tuanya datang, Nabi bertanya padanya, “Anakmu terus-menerus mengadukan bahwa Anda mengambil hartanya.” Orang tua itu menanggapi, “Anda bisa tanyakan pada anakku ini, wahai Rasulullah. Aku mengambil hartanya untuk kebutuhan salah seorang bibinya atau untuk diriku sendiri”? Rasulullah berkata, “Bukan. Bukan itu yang ingin kutanyakan. Kabarkan padaku tentang sesuatu yang kau bisikkan pada dirimu namun belum pernah terdengar oleh telingamu.”

Orang tua itu berkata, “Demi Allah wahai Rasulullah, Allah senantiasa menambahkan keyakinan kepada kami bahwa engkau adalah utusan-Nya. Iya, aku mengatakan sesuatu pada diriku yang bahkan tak pernah terdengar oleh telingaku sendiri.” Rasulullah berkata, “Ucapkanlah. Aku akan mendengarkannya.” Lalu orang tua itu berkata:

غَذَوْتُكَ مَوْلُوْدًا وَمُنْتُكَ يَافِعًا   * تُعَلُّ بِمَا أَجْنِيْ عَلَيْكَ وَتَنْهَلُ

Aku yang mengasuhmu ketika engkau lahir dan aku yang memenuhi kebutuhanmu ketika engkau remaja. Semua jerih payahku engkau nikmati dan reguk sepuasmu.

إِذَا لَيْلَةٌ ضَافَتْكَ بِالسَّقْمِ لَمْ أَبَتْ   * لِسُقْمِكَ إِلَّا سَاهِرًا أَتَمَلْمَلُ

Bila engkau sakit (wahai anakku), maka aku tidak bisa tidur lantaran sakit yang kau derita. Aku resah dan gelisah tidak bisa tidur karena sedih dan khawatir.

تَخَافُ الرَدَى نَفْسِيْ عَلَيْكَ وَإِنَّهَا   * لَتَعْلَمُ أَنَّ المَوْتَ وَقْتٌ مُؤَجَّلُ

Aku mengkhawatirkan jiwamu disambar maut. Padahal aku tahu ajal itu ada waktu kepastiannya.

كَأَنِّيْ أَنَا المَطْرُوْقُ دُوْنَكَ بِالَّذِيْ   * طُرِقْتَ بِهِ دُوْنِيْ فَعَيْنَايَ تَهْمَلُ

Seakan-akan akulah yang sedang sakit dan bukan engka (wahai putraku). Kedua mataku pun tak kuasa mengalirkan air mata.

فَلَمَّا بَلَغْتَ السِنَّ وَالغَايَةَ الَّتِيْ   * إِلَيْهَا مَدَى مَا فِيْكَ كُنْتُ أُؤَمَّلُ

Tatkala engkau sudah mencapai dewasa dan telah menggapai cita-citamu, itulah yang dulu kuharapakan padamu.

جَعَلْتَ جَزَائِي غِلْظَةً وَفَظَاظَةً   * كَأَنَّكَ أَنْتَ المُنْعِمُ المُتَفَضِّلُ

Engkau membalas budi baikku dengan sikap keras dan kata-kata kasar. Seakan-akan engkaulah yang berbuat baik dan berjasa kepadaku.

فَلَيْتَكَ إِذْ لَمْ تَرْعَ حَقَّ أُبُوَّتِيْ   * فَعَلْتَ كَمَا الجَارُ المُجَاوِرُ يَفْعَلُ

Seandainya engkau tidak memperdulikan hakku sebagai seorang ayah. Sikapilah aku seperti seorang tetanggamu. Bagaimana seorang tetangga yang baik memperlakukan tetangganya.

قَالَ: فَعِنْدَ ذَلِكَ أَخَذَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِتَلَابِيْبِ ابْنِهِ وَقَالَ: (أَنْتَ وَمَالُكَ لِأَبِيْكَ). رواه الطبراني في معجمه الصغير والأوسط،

Dalam satu Riwayat disebutkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menangis lalu menarik kerah baju si anak. Beliau bersabda, “Engkau dan hartamu adalah milik ayahmu.” [HR. Ath-Thabrani dalam Mu’jam as-Shaghir al-Ausath].

Sumber : Khutbah Ustadz Firanda
Sumber link : https://khotbahjumat.com/5938-berbakti-kepada-ayah.html

No Comments

Tinggalkan Komentar