Info
Thursday, 18 Jul 2024
  • Telah dibuka Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) Tahun Ajaran 2023 / 2024 untuk TK dan SD Yaa Bunayya Islamic School, untuk info lebih lanjut silahkan hubungi kontak pada website.

Antara Memaafkan Dan Tidak Memaafkan, Urusannya Di Akhirat! (PART 2)

Saturday, 3 June 2023 Oleh : admin

Penulis : Bintang Maharani, S.Si
( Kadiv SDM YBIS)

“Saya memaafkanmu” VS “Saya tidak akan memaafkanmu, urusannya di akhirat!”

بسم الله الرحمن الرحيم, الحمد لله رب العالمين و صلى الله و سلم و بارك على نبينا محمد و آله و صحبه أجمعين, أما بعد

Berikut adalah prinsip mulia bagian kedua dalam Islam tentang etika berhubungan sosial dengan sesama makhluk terutama dengan seorang muslim, yaitu :

Memaafkan Harus Dibarengi dengan Perasaan Lapang Dada

Kesempurnaan sikap memaafkan adalah jika dibarengi dengan perasaan lapang dada, yang menganggap seakan tidak pernah terjadi apa-apa sebelumnya.

Sebagian mungkin bisa memaafkan tetapi tidak bisa lapang dada, contohnya:

Si A telah memaafkan B, orang yang pernah berbuat salah kepadanya tetapi:

– si A tidak ingin lagi bertemu dengan si B,
– si A malas untuk berkumpul bersama dengan si B lagi,
– si A masih selalu mengungkit kesalahan si B,
– si A tidak mau lagi berurusan dengan si B,
– si A tidak lagi mau menolong si B, jika si B membutuhkan pertolongan,

dan contoh-contoh yang lain masih banyak.

Padahal, kalau kita perhatikan ayat-ayat suci Alquran, maka seorang muslim diperintah untuk memaafkan dengan dibarengi lapang dada, mari kita perhatikan:

وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا [النور: 22]

“…dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada…” (QS. An Nur: 22).

Di dalam ayat yang mulia ini terdapat pelajaran yaitu: Perintah untuk memaafkan dan lapang dada, walau apapun yang didapatkan dari orang-orang yang pernah menyakiti. (Lihat Tafsir al Karim Ar Rahman fi Tafsir Al Kalam Al Mannan, karya As Sa’di rahimahullah).

فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاصْفَحْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ [المائدة: 13]

“…maka maafkanlah mereka dan lapangkanlah dada, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al Maidah: 13).

Ayat yang mulia ini memberi beberapa pelajaran :

  1. Sikap memaafkan yang dibarengi dengan perasaan lapang dada adalah sifatnya seorang muhsin.
  2. Seorang muhsin keutamaannya adalah dicintai Allah Ta’ala. Dan keutamaan orang yang dicintai Allah Ta’ala adalah:

– Masuk surga.

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رضى الله عنه قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَتَى السَّاعَةُ قَالَ « وَمَا أَعْدَدْتَ لِلسَّاعَةِ ». قَالَ حُبَّ اللَّهِ وَرَسُولِهِ قَالَ « فَإِنَّكَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ ».

Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu berkata, “Seorang lelaki pernah datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bertanya, “Wahai Rasulullah, kapan hari kiamat?” Beliau menjawab, “Apa yang telah kamu siapkan untuk hari kiamat?” Lelaki itu menjawab, “Kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Maka sungguh kamu akan bersama yang kamu cintai.” (HR. Bukhari dan Muslim).

– Diharamkan oleh Allah Ta’ala untuk masuk neraka.

عنْ أَنَسٍ رضى الله عنه قَال: قَالََ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « والله, لاَ يُلْقِى اللَّهُ حَبِيبَهُ فِى النَّارِ ».

Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu berkata, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Demi Allah, tidak akan Allah melemparkan orang yang dicintai-Nya ke dalam neraka.” (HR. Ahmad dan dishahihkan di dalam kitab Silsilat Al Ahadits Ash Shahihah, no. 2047).

– Dicintai oleh seluruh malaikat ‘alaihimussalam dan diterima oleh penduduk bumi:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ – رضى الله عنه – قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – « إِنَّ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى إِذَا أَحَبَّ عَبْدًا نَادَى جِبْرِيلَ إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَبَّ فُلاَنًا فَأَحِبَّهُ فَيُحِبُّهُ جِبْرِيلُ ، ثُمَّ يُنَادِى جِبْرِيلُ فِى السَّمَاءِ إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَبَّ فُلاَنًا فَأَحِبُّوهُ ، فَيُحِبُّهُ أَهْلُ السَّمَاءِ وَيُوضَعُ لَهُ الْقَبُولُ فِى أَهْلِ الأَرْضِ » .

Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika Allah Tabaraka wa Ta’ala mencintai seorang hamba, maka Allah Ta’ala memanggil Jibril: “Sesungguhnya Allah telah mencintai si fulan maka cintailah fulan”, maka Jibril pun mencintainya, kemudian Jibril menyeru di langit: “Sesungguhnya Allah telah mencintai si fulan maka cintailah kalian fulan”, maka penduduk langit pun mencintainya dan baginya pun penerimaan/rasa simpatik penduduk bumi”. (HR. Bukhari).

Sejatinya, memaafkan bukan hanya sekedar memberi maaf tapi juga diikuti dengan rasa tulus dan lapang dada. Karena jika tidak, selamanya kita akan membawa beban itu didalam diri kita..

Semoga bermanfaat.

Baca Artikel Sebelumnya Antara Memaafkan Dan Tidak Memaafkan, Urusannya Di Akhirat!

Sumber : https://pengusahamuslim.com/3021-antara-memaafkan-dan-1603.html

No Comments

Tinggalkan Komentar